Entry: LoVeNa Thursday, August 31, 2006



Aku terkejut. Sepertinya aku baru saja mendapat hantaman yang keras di hatiku. Tidak…randy akan dipindahkan di Surabaya. Apakah itu sebabnya dia jarang sekali kelihatan di kampus? Mempersiapkan diri pergi dari kampus ini?

            “Terus kenapa memangnya?”tanyaku ke astrid berkelit. Pura-pura tidak merasa sedih.

            “Jo, kamu kan suka sama dia?”sahut astrid.

            “Nggak, aku sama sekali tidak menyukainya”kataku ketus padanya.

            Tapi, astrid melihatku dan menatapku dalam-dalam. Apakah dia melihat kalau mataku berkaca-kaca. Dan bibirku bergetar.

            Aku tak sanggup lagi. Dan…dan…

            Dan..aku menangis…menangis.

            “Sudahlah jo, jangan pura-pura lagi. Sekarang kau cari dia dan segera minta maaf padanya biar kamu lega”pintanya padaku. aku terhenyak.

            Tidak…itu bukan aku. Aku tak akan mau menyerah begitu saja hanya karena dia pergi. Disini, banyak cowok-cowok cakep. Bukan Cuma dia aja yang bisa menarik perhatianku.

            Aku menggeleng.”Tidak, aku tak mau minta maaf. Titik!”sahutku tegas lalu meninggalkan astrid duduk sendirian. Aku kembali mengambil antrian.

            Randy akan pergi meninggalkanku sendiri….

            Kenangan itu….

            Hanya tinggal kenangan….

*

            Aku duduk termenung di kelas. Mengisi jadwal kuliah baru untuk semester depan. Sedikit tak ada semangat lagi. Randy sudah pergi jauh. Tak kelihatan lagi batang hidungnya. Buku yang dia pinjam saat itu sudah dikembalikannya padaku. tapi, melalui temannya yang bernama Andi.

            Andi berkata padaku bahwa randy meminta maaf jika ada kesalahan padaku selama ini. Menitip maaf? Tidak gentle. Itu bukan laki-laki melainkan banci.

            Aku sama sekali tak menanyakan nomor telepon padanya. Sebenarnya, kenapa aku tidak basa-basi saja padanya. pura-pura Tanya apa gitu, atau mungkin mengajaknya makan bersama untuk yang terakhir kalinya? He..he..he…itu adalah pikiran aneh yang aku punya selama ini.

            Walaupun sangat ingin, tapi…aku tidak bisa melanggar prinsipku.

            Benci ya benci, cinta ya cinta….titik tak ada koma lagi.

            Tapi, kata orang benci itu singkatan dari”Benar-benar cinta”.

            Apa itu benar? Sebenarnya apa makna sesungguhnya dari benci?

            Ah….membuatku pusing saja. Aku seperti menjadi Ti pat kai, yang suka berkhayal akan cinta sejati yang tak pernah mati.

            Aku membaca bukuku yang pernah dia pinjam. Biasanya, kata temanku. kalau cowok pinjam buku ke cewek. Saat mengembalikannya. Pasti dia meninggalkan pesan di tengah-tengah buku itu. Atau sekedar tulisan.

            Aku berinisiatif untuk mencarinya. Satu persatu. Lembar demi lembar aku buka pelan-pelan.

            Kira-kira dimana dia meletakkannya? Pikirku gelisah.

            Astrid mengagetkanku tiba-tiba.

            “Hei, lagi ngapain?”tanyanya.

            “Aduh, kamu ini ganggu aku aja deh!”jawabku marah.

            “Sorry-sorry, habis kamu serius amat sih!”ujarnya

            Aku kembali membuka buku itu. Tak kutemukan satupun lembaran itu.

            “Kau mencari apa?”tanyanya.

            “Nggak perlu tahu!”sahutku ketus. Ah..kok tidak ada sama sekali.

            Akhirnya, aku menutup buku itu lalu kumasukan ke dalam tas.

            Payah…ternyata tidak ada. Kira-kira di buku yang mana ya? Dia kan sering pinjam bukuku. Setelah tragedi itu dia tak berani bicara padaku. tapi, dia baru bicara saat ada keperluan. Yah…seperti pinjam buku itu.

            Aku kecewa. Astrid hanya melongo.

*

            Sudah seminggu ini randy meninggalkan kota Yogya yang tercinta menyimpan berbagai kenangan lucu, buruk dan aneh. Randy mengingat kejadian saat dimana dia dan Joanne ketinggalan bis. Berlari-lari bersama.

            Randy tersenyum.

            Lalu mengingat kembali saat Joanne pertama kali dipanggil si manis oleh dosen. Dan dia sudah ditampar oleh Joanne gara-gara mencoba ikut-ikutan mengejeknya.

            Dasar si hitam, cerewet, banyak omong, banyak tingkah, suka bohong dan pemarah.

            Randy tersenyum bahagia. Tapi….seketika berubah.

            Dia mengingat saat dimana Joanne menjambak rambutnya, gara-gara membaca catatan kecil itu. Sebenarnya, kenapa dia marah? Pikir randy.

            Di catatan itu tertulis, bahwa dia menyukaiku. Gelisahnya.

            Terus, kenapa dia sangat membenciku? Tanya dia gusar.

            Sebenarnya, dia menyukaiku ataukah membenciku?

            Itu adalah pikiran randy. Benak randy sampai saat ini. Dan dia juga ragu untuk menanyakan hal itu pada Joanne. Kertas kecil yang dia selipkan di salah satu buku Joanne yang dia pinjam. Akankah Joanne sadar kalau dirinya meninggalkan alamat email padanya.

            Randy tak berani bertanya pada Joanne. Setelah kejadian itu, randy bungkam seribu bahasa.

            Hanya buku itulah yang bisa mengajaknya berbicara.

            Joanne, semoga kau menemukannya. Aku ingin berhubungan lebih dekat denganmu. Benak randy dalam hati.

*

            Aku pulang ke rumah sepupuku di solo. Saat ini aku ingin ditemani oleh kakak sepupuku yang bernama Dhevy. Dia berusia tiga tahun diatasku. Aku sudah menganggapnya sebagai kakakku sendiri.

            “Kak dhevy, ada waktu sebentar nggak?”tanyaku padanya. dia sedang asyik menonton televisi. Kak dheavy itu cantik, dan supel. Dan enak diajak buat curhat.

            Dia tersenyum. Dan memintaku duduk disampingnya.

            “Kak, tvnya matikan dulu dong!”pintaku padanya.

            “Ok!”sahutnya langsung mematikan tv itu.

            “Ada apa dek?”tanyanya menatapku.

            “Kak, aku bingung nih!”ujarku padanya.

            “Cerita deh!kak dhe dengerin deh!”sahutnya. “Sebentar”sambungnya. Dia mengambil camilan di sebelahnya. Seperti biasa,jika dheavy diajak curhat pasti dia mendengarkan sambil nyemil.

            “Sekarang, lanjutin”ucapnya sambil kriuk…kriuk…kriuk.

            Aku mengambil napas panjang. Sebelum memulai ceritaku.

            “Kak, aku suka sama cowok”

            “Hah? Bener nih?siapa?”tanyanya

            “Namanya Randy, dia teman sekelasku”

            “Terus?”

            “Kak dhe tahu sendiri kan, kalau aku suka cowok pasti aku pura-pura benci sama dia”

            Kak Dheavy mengangguk lalu tersenyum.

            “Iya, kak dhe tahu. Itu sudah jadi prinsipmu kan?”

            Aku mengangguk.”Iya”

            “Lalu? Apa dia sudah tahu?”tanyanya

            Aku menggeleng.”sudah”

            “Wah, asyik dong!udah punya cowok nih ceritanya?”ejeknya padaku.

            Aku terdiam.

            “Lho, kok malah diem kenapa?”tanyanya lagi.

            “Ehm, dia buat aku malu kak?”

            “Kenapa?”

            “Waktu itu, dia baca catatanku yang isinya tentang dia. Pasti dia kegeeran kak!”ujarku.

            “Oh, jadi masalahnya itu toh!”sahutnya.

            “Terus, sekarang dia gimana sama kamu?baik atau nggak?”tanyanya lagi penasaran.

            Aku menggeleng.

            “Dia sudah pergi kak, udah nggak kuliah di sana lagi”sahutku sedih. Lalu menangis.

            Kak dheavy memelukku erat. Dia tahu seberapa kesedihanku.

            “Sudah, jangan nangis dong!kamu udah minta maaf sama dia belum?”tanyanya

            Aku menggeleng”Nggak sempat kak!”

            “Kenapa?”

            “Sejak saat itu aku nggak pernah ngajak dia bicara, selain pinjam bukuku”sahutku

            “Oh, apa dia sama sekali nggak ninggalin pesan buatmu?”

            “Ya, dia nggak ninggalin apapun kak!”sahutku sedih.

            “Ya sudahlah, mungkin dia bukan jodoh kamu jo!”ujarnya menenangkanku.

            Aku mengusap air mataku.

            “Nih, tissue!”ujar kak dheavy sambil menyodorkanku beberapa lembar tissue.

            “Makasih ya kak!”sahutku berusaha tersenyum.

            “Kak?”sambungku

            “Apa lagi?”

            “Kak benarkah kalau benci itu bisa berubah jadi cinta?”tanyaku

            “Bisa juga”

            “Kenapa?”

            “Karena, jika kita membenci seseorang. Biasanya waktu kita habis digunakan untuk memikirkannya. Dan kamu tahu sendiri kan antara benci dan cinta itu bedanya tipis sekali”ujarnya menjelaskan.

            Aku diam termangu.

            “Kenapa bisa begitu ya kak?”

            “Dek, kalau kamu nggak suka sama seseorang itu pasti nggak akan pernah peduli tentang dia. Nggak ada waktu mikirin dia. Tapi kalau benci, beda!”ujarnya

            Aku jadi semakin bingung.

            “Jadi lawannya cinta itu bukan benci melainkan tidak peduli gitu?”ucapku semakin ingin tahu.

            Kak dheavy mengangguk.”Betul!”

            Oh, jadi begitu ya? Kira-kira randy itu benci atau tidak peduli ya?

            Aku semakin gusar.

*

            Daripada pusing mikir dia suka sama aku atau nggak, lebih baik aku browsing saja deh! Kebetulan hari ini libur. Di kost-kosan ini, hanya aku yang mempunyai komputer disini. Seperti biasa mama selalu memberiku penghidupan yang layak. Biarpun tak ada kasih sayang dari mereka berdua.

            Aku adalah anak yang malang…

            Hidup di dalam lingkungan yang terbuang….

            Tak ada yang memberiku kasih sayang……

            Aku adalah anak yang malang…..

 

            Hiperbolis amat sih aku ini! Sepertinya aku memang layak dijadikan seorang pujangga. He..he..he…

            Aku melanjutkan browsingku. Sambil menunggu connect aku mengambil buku desainku. Sepertinya, buku ini pernah sekali dipinjam oleh randy. Kenangannya hanyalah ini. Tak ada yang lain.

            Jika dia memang suka padaku, kenapa bukan dia yang maju? Kenapa harus aku yang lelah-lelah dan bersusah payah memikirkannya. Padahal aku benci….benci apa cinta??? Ce…ii..le…

            Aku membuka halaman tengah. Dan tanpa sengaja aku menemukan secarik kertas. Ah..mungkinkah, ini satu-satunya peninggalannya. Selama dua bulan ini aku begitu kehilangannya.

            Aku membacanya. Disana tertulis alamat email.

            R_4ndy@yahoo.com

            Wow….benar juga! Ini pasti kepunyaannya. Hatiku kebat-kebit tak karuan. Terbang seperti layang-layang. Aku juga punya puisi untuk yang iniJ

            Aku cari….

            Dia menghilang…

            Aku kembali….

            Dia datang….

 

            He…he..he…sepertinya, dia sengaja meninggalkannya dibuku desain ini. Biarpun dia tak bicara karena aku sudah tak ingin bicara dengannya. Tapi, semua ini adalah jawabannya yang sesungguhnya.

            Sebuah jawaban darinya. Yang sangat aku nantikan.

            Randy sudah pergi selama enam puluh dua hari….

            Tak ada kabar dari temannya. Karena aku juga sama sekali tak pernah bertanya.

            Sekarang, apa yang harus kulakukan? Mengirimnya email atau tidak ya?

            Ah, lebih baik aku pakai emailku yang lain. Sebuah email palsu. Aku mengirim email padanya. pura-puranya, aku orang lain yang ingin berkenalan dengannya. Kau tahu sobat, kenapa? Karena aku GENGSI.

            Biar gengsiku gede-gedean sama dia.

            Subject: hi, boleh kenal ga?

            To: R_ndy@yahoo.com

           

            Hi, boleh kenalan ga? Namamu randy bukan? Kenalin, aku Irene. Aku tahu kita pernah chat sebelumnya. Makasih

 

            Irene..

 

            Yups! Kira-kira dia ngebalas lagi nggak ya? Semoga saja dia merespon. Akhirnya, aku mematikan komputerku. Tak terasa sudah pukul sepuluh malam. Kedua mataku sudah tidak sanggup lagi aku buka.

            Aku merebahkan diriku di kasurku. Dan mulai menutup mata.

*

            Randy menyalakan komputernya, seperti biasa jika dia menyalakan komputer pasti yang pertama dia klik adalah internet. Dia ingin download sesuatu. Yah…randy itu kan cowok pinter. Anaknya Rector dan juga tajir. Biar tajir tapi dia nggak suka pamer. Karena dia tahu orang yang suka pamer sebenarnya adalah orang yang nggak punya apa-apa. Alias kere.

            Dia mulai membuka mailboxnya di yahoo. Mungkinkah si manis sudah mengirim surat untuknya. Basi sebenarnya, karena zaman sms kok masih suka nulis email. Tapi, semuanya itu karena ada alasannya. Yaitu karena randy tak berani menanyakannya. Takut Joanne merasa terusik.

            Padahal, Joanne juga menyukainya setengah mati. Malah mungkin hampir mati.

   1 comments

Name sahudi maulana
December 19, 2007   10:25 AM PST
 
WAO panjang juga ceritanya
tp kok kurang seru sih
da yang lebih seri lagi gak

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments