|
Aku terkejut. Sepertinya aku baru saja mendapat hantaman yang keras di
hatiku. Tidak…randy akan dipindahkan di Surabaya. Apakah itu sebabnya dia
jarang sekali kelihatan di kampus? Mempersiapkan diri pergi dari kampus ini? “Terus kenapa memangnya?”tanyaku
ke astrid berkelit. Pura-pura tidak merasa sedih. “Jo, kamu kan suka sama
dia?”sahut astrid. “Nggak, aku sama sekali
tidak menyukainya”kataku ketus padanya. Tapi, astrid melihatku dan
menatapku dalam-dalam. Apakah dia melihat kalau mataku berkaca-kaca. Dan
bibirku bergetar. Aku tak sanggup lagi.
Dan…dan… Dan..aku
menangis…menangis. “Sudahlah jo, jangan
pura-pura lagi. Sekarang kau cari dia dan segera minta maaf padanya biar kamu
lega”pintanya padaku. aku terhenyak. Tidak…itu bukan aku. Aku
tak akan mau menyerah begitu saja hanya karena dia pergi. Disini, banyak
cowok-cowok cakep. Bukan Cuma dia aja yang bisa menarik perhatianku. Aku menggeleng.”Tidak, aku
tak mau minta maaf. Titik!”sahutku tegas lalu meninggalkan astrid duduk sendirian.
Aku kembali mengambil antrian. Randy akan pergi
meninggalkanku sendiri…. Kenangan itu…. Hanya tinggal kenangan…. * Aku duduk termenung di
kelas. Mengisi jadwal kuliah baru untuk semester depan. Sedikit tak ada
semangat lagi. Randy sudah pergi jauh. Tak kelihatan lagi batang hidungnya.
Buku yang dia pinjam saat itu sudah dikembalikannya padaku. tapi, melalui
temannya yang bernama Andi. Andi berkata padaku bahwa
randy meminta maaf jika ada kesalahan padaku selama ini. Menitip maaf? Tidak
gentle. Itu bukan laki-laki melainkan banci. Aku sama sekali tak
menanyakan nomor telepon padanya. Sebenarnya, kenapa aku tidak basa-basi saja
padanya. pura-pura Tanya apa gitu, atau mungkin mengajaknya makan bersama untuk
yang terakhir kalinya? He..he..he…itu adalah pikiran aneh yang aku punya selama
ini. Walaupun sangat ingin,
tapi…aku tidak bisa melanggar prinsipku. Benci ya benci, cinta ya
cinta….titik tak ada koma lagi. Tapi, kata orang benci itu
singkatan dari”Benar-benar cinta”. Apa itu benar? Sebenarnya
apa makna sesungguhnya dari benci? Ah….membuatku pusing saja.
Aku seperti menjadi Ti pat kai, yang suka berkhayal akan cinta sejati yang tak
pernah mati. Aku membaca bukuku yang
pernah dia pinjam. Biasanya, kata temanku. kalau cowok pinjam buku ke cewek. Saat
mengembalikannya. Pasti dia meninggalkan pesan di tengah-tengah buku itu. Atau
sekedar tulisan. Aku berinisiatif untuk
mencarinya. Satu persatu. Lembar demi lembar aku buka pelan-pelan. Kira-kira dimana dia meletakkannya? Pikirku
gelisah. Astrid mengagetkanku
tiba-tiba. “Hei, lagi
ngapain?”tanyanya. “Aduh, kamu ini ganggu aku
aja deh!”jawabku marah. “Sorry-sorry, habis kamu
serius amat sih!”ujarnya Aku kembali membuka buku
itu. Tak kutemukan satupun
lembaran itu. “Kau mencari
apa?”tanyanya. “Nggak perlu tahu!”sahutku
ketus. Ah..kok tidak ada sama sekali. Akhirnya, aku menutup buku
itu lalu kumasukan ke dalam tas. Payah…ternyata tidak ada.
Kira-kira di buku yang mana ya? Dia kan sering pinjam bukuku. Setelah tragedi itu dia tak berani bicara
padaku. tapi, dia baru bicara saat ada keperluan. Yah…seperti pinjam buku itu. Aku kecewa. Astrid hanya
melongo. * Sudah seminggu ini randy
meninggalkan kota Yogya yang tercinta menyimpan berbagai kenangan lucu, buruk
dan aneh. Randy mengingat kejadian saat dimana dia dan Joanne ketinggalan bis.
Berlari-lari bersama. Randy tersenyum. Lalu mengingat kembali
saat Joanne pertama kali dipanggil si manis oleh dosen. Dan dia sudah ditampar oleh Joanne gara-gara
mencoba ikut-ikutan mengejeknya. Dasar si hitam, cerewet,
banyak omong, banyak tingkah, suka bohong dan pemarah. Randy tersenyum bahagia.
Tapi….seketika berubah. Dia mengingat saat dimana
Joanne menjambak rambutnya, gara-gara membaca catatan kecil itu. Sebenarnya,
kenapa dia marah? Pikir randy. Di catatan itu tertulis,
bahwa dia menyukaiku. Gelisahnya. Terus, kenapa dia sangat
membenciku? Tanya dia gusar. Sebenarnya, dia menyukaiku
ataukah membenciku? Itu
adalah pikiran randy. Benak randy sampai saat ini. Dan dia juga ragu untuk menanyakan hal itu pada
Joanne. Kertas kecil yang dia selipkan di salah satu buku Joanne yang dia
pinjam. Akankah Joanne sadar kalau dirinya meninggalkan alamat email padanya. Randy tak berani bertanya
pada Joanne. Setelah kejadian itu, randy bungkam seribu bahasa. Hanya buku itulah yang
bisa mengajaknya berbicara. Joanne, semoga kau
menemukannya. Aku ingin berhubungan lebih dekat denganmu. Benak randy dalam
hati. * Aku pulang ke rumah
sepupuku di solo. Saat ini aku ingin ditemani oleh kakak sepupuku yang bernama
Dhevy. Dia berusia tiga tahun diatasku. Aku sudah menganggapnya sebagai kakakku
sendiri. “Kak dhevy, ada waktu
sebentar nggak?”tanyaku padanya. dia sedang asyik menonton televisi. Kak dheavy
itu cantik, dan supel. Dan enak diajak buat curhat. Dia tersenyum. Dan
memintaku duduk disampingnya. “Kak, tvnya matikan dulu
dong!”pintaku padanya. “Ok!”sahutnya langsung
mematikan tv itu. “Ada apa dek?”tanyanya
menatapku. “Kak, aku bingung
nih!”ujarku padanya. “Cerita deh!kak dhe
dengerin deh!”sahutnya. “Sebentar”sambungnya. Dia mengambil camilan di
sebelahnya. Seperti biasa,jika dheavy diajak curhat pasti dia mendengarkan
sambil nyemil. “Sekarang,
lanjutin”ucapnya sambil kriuk…kriuk…kriuk. Aku mengambil napas
panjang. Sebelum memulai ceritaku. “Kak, aku suka sama cowok” “Hah? Bener
nih?siapa?”tanyanya “Namanya Randy, dia teman
sekelasku” “Terus?” “Kak dhe tahu sendiri kan,
kalau aku suka cowok pasti aku pura-pura benci sama dia” Kak Dheavy mengangguk lalu
tersenyum. “Iya, kak dhe tahu. Itu
sudah jadi prinsipmu kan?” Aku mengangguk.”Iya” “Lalu? Apa dia sudah
tahu?”tanyanya Aku menggeleng.”sudah” “Wah, asyik dong!udah
punya cowok nih ceritanya?”ejeknya padaku. Aku terdiam. “Lho, kok malah diem
kenapa?”tanyanya lagi. “Ehm, dia buat aku malu kak?” “Kenapa?” “Waktu itu, dia baca
catatanku yang isinya tentang dia. Pasti dia kegeeran kak!”ujarku. “Oh, jadi masalahnya itu
toh!”sahutnya. “Terus, sekarang dia gimana sama kamu?baik atau
nggak?”tanyanya lagi penasaran. Aku menggeleng. “Dia sudah pergi kak, udah
nggak kuliah di sana lagi”sahutku sedih. Lalu menangis. Kak dheavy memelukku erat.
Dia tahu seberapa kesedihanku. “Sudah, jangan nangis
dong!kamu udah minta maaf sama dia belum?”tanyanya Aku menggeleng”Nggak
sempat kak!” “Kenapa?” “Sejak saat itu aku nggak
pernah ngajak dia bicara, selain pinjam bukuku”sahutku “Oh, apa dia sama sekali
nggak ninggalin pesan buatmu?” “Ya, dia nggak ninggalin
apapun kak!”sahutku sedih. “Ya sudahlah, mungkin dia
bukan jodoh kamu jo!”ujarnya menenangkanku. Aku mengusap air mataku. “Nih, tissue!”ujar kak
dheavy sambil menyodorkanku beberapa lembar tissue. “Makasih ya kak!”sahutku
berusaha tersenyum. “Kak?”sambungku “Apa lagi?” “Kak benarkah kalau benci
itu bisa berubah jadi cinta?”tanyaku “Bisa juga” “Kenapa?” “Karena, jika kita
membenci seseorang. Biasanya waktu kita habis digunakan untuk memikirkannya.
Dan kamu tahu sendiri kan antara benci dan cinta itu bedanya tipis
sekali”ujarnya menjelaskan. Aku diam termangu. “Kenapa bisa begitu ya
kak?” “Dek, kalau kamu nggak
suka sama seseorang itu pasti nggak akan pernah peduli tentang dia. Nggak ada
waktu mikirin dia. Tapi kalau benci, beda!”ujarnya Aku jadi semakin bingung. “Jadi lawannya cinta itu
bukan benci melainkan tidak peduli gitu?”ucapku semakin ingin tahu. Kak dheavy
mengangguk.”Betul!” Oh, jadi begitu ya?
Kira-kira randy itu benci atau tidak peduli ya? Aku semakin gusar. * Daripada pusing mikir dia
suka sama aku atau nggak, lebih baik aku browsing saja deh! Kebetulan hari ini
libur. Di kost-kosan ini, hanya aku yang mempunyai komputer disini. Seperti
biasa mama selalu memberiku penghidupan yang layak. Biarpun tak ada kasih
sayang dari mereka berdua. Aku adalah anak yang
malang… Hidup di dalam lingkungan
yang terbuang…. Tak ada yang memberiku kasih
sayang…… Aku adalah anak yang
malang….. Hiperbolis amat sih aku
ini! Sepertinya aku memang layak dijadikan seorang pujangga. He..he..he… Aku melanjutkan
browsingku. Sambil menunggu connect aku mengambil buku desainku. Sepertinya,
buku ini pernah sekali dipinjam oleh randy. Kenangannya hanyalah ini. Tak ada
yang lain. Jika dia memang suka
padaku, kenapa bukan dia yang maju? Kenapa harus aku yang lelah-lelah dan
bersusah payah memikirkannya. Padahal aku benci….benci apa cinta??? Ce…ii..le… Aku membuka halaman
tengah. Dan tanpa sengaja aku menemukan secarik kertas. Ah..mungkinkah, ini
satu-satunya peninggalannya. Selama dua bulan ini aku begitu kehilangannya. Aku membacanya. Disana tertulis alamat email. Wow….benar juga! Ini pasti
kepunyaannya. Hatiku
kebat-kebit tak karuan. Terbang seperti layang-layang. Aku juga punya puisi
untuk yang iniJ Aku cari…. Dia menghilang… Aku kembali…. Dia datang…. He…he..he…sepertinya, dia
sengaja meninggalkannya dibuku desain ini. Biarpun dia tak bicara karena aku
sudah tak ingin bicara dengannya. Tapi, semua ini adalah jawabannya yang
sesungguhnya. Sebuah jawaban darinya.
Yang sangat aku nantikan. Randy sudah pergi selama
enam puluh dua hari…. Tak ada kabar dari temannya. Karena aku juga sama
sekali tak pernah bertanya. Sekarang, apa yang harus
kulakukan? Mengirimnya email atau tidak ya? Ah, lebih baik aku pakai
emailku yang lain. Sebuah email palsu. Aku mengirim email padanya.
pura-puranya, aku orang lain yang ingin berkenalan dengannya. Kau tahu sobat,
kenapa? Karena aku GENGSI. Biar gengsiku gede-gedean
sama dia. Subject: hi, boleh
kenal ga? To:
R_ndy@yahoo.com Hi, boleh kenalan ga? Namamu randy
bukan? Kenalin, aku Irene. Aku tahu kita pernah chat sebelumnya. Makasih Irene.. Yups! Kira-kira dia ngebalas lagi
nggak ya? Semoga saja dia merespon. Akhirnya, aku mematikan komputerku. Tak terasa sudah pukul sepuluh malam.
Kedua mataku sudah tidak sanggup lagi aku buka. Aku merebahkan diriku di
kasurku. Dan mulai menutup mata. * Randy menyalakan
komputernya, seperti biasa jika dia menyalakan komputer pasti yang pertama dia
klik adalah internet. Dia ingin download sesuatu.
Yah…randy itu Dia mulai membuka
mailboxnya di yahoo. Mungkinkah si manis sudah mengirim surat untuknya. Basi
sebenarnya, karena zaman sms kok masih suka nulis email. Tapi, semuanya itu
karena ada alasannya. Yaitu karena randy tak berani menanyakannya. Takut Joanne
merasa terusik. Padahal, Joanne juga
menyukainya setengah mati. Malah mungkin hampir mati. |
| Name sahudi maulana December 19, 2007 10:25 AM PST WAO panjang juga ceritanya tp kok kurang seru sih da yang lebih seri lagi gak | ||
| Leave a Comment: |