|
Apa mungkin dia sekarang ada di ruangan bersama temannya itu. Jika aku
kembali. Mukaku ditaruh dimana? Malu………… “Hei Andi, sorry aku
telat!”seru Randy tiba-tiba berada di belakang Andi. Andi hanya senyum-senyum
sendiri. Randy merasa curiga. Dia
tidak melihat satu-satunya cewek di grupnya. “Andi, Si manis mana?”Tanya Randy Andi diam saja. Lalu bicara. “Dia sudah pergi”jawabnya “Kemana?memang dia nggak
ikut?”Tanya Randy Andi menggeleng. “Gila, padahal lima belas
menit lagi berangkat!”sahut randy cemas. Randy terdiam. Lalu pergi
meninggalkan temannya itu. Andi
hanya bisa tertawa sendiri. Batin Andi.
Ck..ck..ck..ternyata mereka sudah saling jatuh cinta. * Aku duduk melamun
sendirian. Sebaiknya, aku meninggalkan kampus ini saja. Lebih baik pulang ke
solo saja. Daripada aku kembali kesana mendapatkan malu. Pergi saja. Aku
beranjak keluar menuju pintu gerbang. Dengan langkah yang sangat lambat. Seperti
orang yang enggan berjalan. Sebentar-sebentar berhenti. Lalu jalan lagi. Kebingungan…. Pintu gerbang sudah
kulewati. Yups! Pulang saja deh! Akhirnya, aku berinisiatif pulang ke solo
saja. Kuberhentikan angkutan umum itu. Lalu berlanjut naik bis kota ke arah
solo. Tidak begitu jauh kan?pikirku. Aku mengambil kursi paling
belakang. Karena memang tinggal satu. Gelisah hatiku memikirkan Randy. Jika
saja tadi aku tidak keluar mencarinya. Akan lain cerita. Tanpa sengaja aku menoleh
kebelakang. Melihat ke jendela. Iya..aku melihat Randy keluar di pintu gerbang.
Itu dia!pikirku. Keluar atau tidak ya! Tapi, rasa gengsiku sangat besar. Jika
aku turun menemuinya, pasti dia bakal gede rasa. Dan dia akan menertawakanku. Tatapanku ternyata diterima olehnya. Dia
melihatku. Aduh…segera saja aku membuang mukaku jauh-jauh. Menatap depan. Tapi, sepertinya aku
mendengar dia memanggilku. “Joanne”panggilnya. Tapi,
aku tak menggubrisnya. Tapi….tapi…hatiku berlawanan. Aku memberhentikan laju
angkutan ini. “Stop pak!”seruku lalu
beranjak turun dan membayar ongkosnya. Tapi, aku tidak berani
menatap kebelakang. Sampai akhirnya, menoleh
juga padanya. Dia menghampiriku. Napasnya sesak. Karena tadi, dia mengejarku. Sedikit gede rasa. Aku
tersenyum padanya. “Kenapa kamu
pergi?”tanyanya. Ingin sekali aku menjawab, karena aku mencarimu. Gumamku. “A…aku, tadi mamaku
telpon, ada urusan penting. Tapi sepertinya tidak jadi”sahutku seperti biasa
berkelit. Membohonginya. “Terus?”sambungnya lagi. “Ya terus aku kembali
lagi”jawabku ketus. “Oh…” He…he..he..benar-benar
GEER. Tiba-tiba aku melihat bis
untuk ke kaliurang sudah berangkat satu persatu. Dan mereka semua sudah pergi
meninggalkanku berdua dengan Randy. “Randy..randy, bisnya
sudah berangkat,kita ditinggal”seruku sambil mengejar laju bis itu. “Woi…teman-teman, aku
disini!”teriak Randy. Tapi….bisnya sudah tak
kelihatan lagi. Semakin dikejar semakin menjauh. Terus, apa yang akan
kulakukan? Tanyaku. Kami berdua terdiam dalam
keheningan. Sekarang sudah pukul
sembilan malam. Ah…aku menatap Randy. Dan dia menatapku juga. Mata kami beradu
pandang. Tampak kemerah-merahan dari wajahnya. Sepertinya rona mukaku juga
berubah. Aku malu sekali. Randy tersenyum. Sesaat
kemudian dia tertawa terbahak-bahak. “Kenapa kamu?”tanyaku
gusar. Tapi dia tetap tertawa. Memang,
apanya yang lucu? “Dasar sapi kamu!”ejekku
padanya. “Ya kamu! Keledai, tulalit
alias telat mikir!”jawabnya. “Eh…ya kamu yang bego,
sudah tahu aku pergi ngapain nyusul?” tanyaku. Dia terdiam. Menatapku.
Lalu melangkah pergi. “Hei, kamu kemana?”tanyaku
mengejarnya. “Pulang ke
kos-kosan!”sahutnya. Apa? Pulang? Yah…tidak ada
hari indah berdua dengannya. Gerutuku. Aku melihatnya sudah jauh
dariku. Jauh…jauh…sekali. Tapi, dia dekat di hatiku. * “Ma, kenapa mama nggak
datang menjenguk papa?”pintaku padanya. Wanita itu usianya sudah menginjak
empat puluh lima tahun. Kerutan diwajahnya semakin lama semakin terlihat.
Rambutnya lurus sebahu dan berkulit putih. Kok, beda denganku ya? Mungkinkah
aku bukan anaknya?tanyaku. Tidak mungkin, karena aku
terkena gen dari papaku. Jadi kulitku coklat. Dia memelukku. Kemudian
menangis tersedu. “Mama tidak sanggup
sayang?”sahutnya sambil terisak-isak. “Ma, papa sakit. Tidak ada
yang merawat papa sekarang”jawabku. Dia terdiam. “Joanne, mama dan papa
sudah tidak ada hubungan lagi”ujarnya Aku menangis. Air mataku
mengalir deras tiada henti. “Ja..jadi, mama nggak
perduli kalau papa sampai mati?”ujarku terisak-isak. Mama kembali memelukku. “Tidak sayang, jangan
berkata seperti itu, sekarang kamulah yang bisa menolongnya”jawabnya tegas. “Nggak, aku benci mama!aku
nggak mau nemuin mama lagi, aku benci!”teriakku lalu meninggalkannya di rumah
itu. Bukan rumahku, melainkan rumah suaminya yang baru. Sebenarnya, mama
meninggalkan papa karena memang dulu papa selingkuh dengan wanita lain. Tapi,
apakah satu kesalahan harus dibalas dengan kesalahan juga?tanyaku dalam hati. Tidak bukan? Semuanya
seolah pergi dariku. Sekarang, yang menemani papa adalah selingkuhannya itu. Jika
tiba-tiba datang ke rumah papa. Selalu yang kulihat dia. Makanya aku meminta
mama supaya menjenguknya. Biar wanita jalang itu tak berani mengganggu papa
lagi. Tangisanku tak berarti
buat mama. Tak berarti sama sekali. Walaupun aku memohon dan menyembah sujud
padanya. Tak ada gunanya. Mereka egois. Aku hanyalah anak
satu-satunya. Tak ada yang memberiku kasih sayang. Disaat aku sangat
membutuhkan mereka. Tapi, mereka hanya menuruti keinginannya sendiri. Tak penting…biar aku mati
juga tak ada yang menangisiku. Tak ada satupun. Buat apa aku dilahirkan di dunia
ini? Buat apa? Jika mereka tidak
menginginkanku berada disisinya. * Aku dan Randy dipanggil
oleh ketua HIMA. Karena tidak mengikuti acara Camp. Kami berdua hanya terdiam.
Tak berani bicara sedikitpun. Mereka semua berkumpul menginterogasiku dan
randy. Tapi, kelihatannya Randy santai-santai saja. Tidak gentar sedikit pun. “Kalian, kemana?”Tanya
ketua HIMA Aku merasa gugup sekali. Gemetaran. “Sa…saya, tiba-tiba ada
urusan, ayah saya mendadak sakit parah”sahutku padanya. Memang benar, papaku
sedang sakit. Tiba-tiba Ketua HIMA
menggebrak meja. “Kamu tahu apa
hukumannya?”ujarnya menakutiku. Aku menggeleng tidak tahu. “Kamu bakal tidak
diluluskan”ujarnya membuatku semakin ketakutan. Lalu dia mulai menanyai Randy. Aku ingin tahu reaksinya. “Lalu
kamu!kemana?”bentaknya. sedikit beda denganku. Mungkin karena aku cewek. “Acara itu sama sekali
nggak penting”sahutnya mengejutkan mereka. Begitu juga aku. “Apa katamu?” “Maaf saya banyak tugas
penting, lebih penting dari ini, oh ya kenapa kamu mengancamnya? Kamu tahu
kalau aku ini anak dari salah satu rector disini”ujarnya. Apa? Anaknya rector? “Benarkah?siapa?”Tanya
Ketua HIMA itu sedikit kikuk. “Nggak perlu tahu!”sahutnya
santai lalu meninggalkan mereka dan aku sendirian. “Ran..randy, tunggu
aku!”seruku padanya. Sepertinya, randy
benar-benar hebat. Dia berbohong untuk menakuti mereka semuanya. Wow…simpatiku
bertambah lagi satu poin. * Aku terkesima olehnya. Dia
sudah membelaku habis-habisan. Ce..i..le…katanya benci, kok jadi seperti ini? “Ran..randy, makasih ya
tadi kamu su..”ujarku padanya. Tapi sudah diputus olehnya. “Halah…sudahlah, nggak
usah basa-basi pake trima kasih segala”sahutnya memotong pembicaraanku. Kok, tiba-tiba berubah
seratus delapan puluh derajat. Tadi baik lalu berubah
kejam. Gimana sih? “Aku nggak bermaksud
untuk…”ujarku lagi. Tapi dia tetap cuek. Benci
aku tipe cowok kayak gini. Benar-benar bikin aku bete abis. Bisa dibayangkan
gimana kalau nanti aku jadi ceweknya. Pasti yang terjadi hanyalah
pertengkaran-pertengkaran. Tapi, ini kan sudah menjadi bagian dari janjiku. Bahwa,
lebih baik membenci dulu daripada mencintai. Karena benci bisa jadi cinta. Aku membolak-balik halaman
fileku. Lalu astrid memanggilku. “Jo, anterin aku ke kamar
mandi dong!”pintanya padaku. “Berangkat sendiri deh,
lagi males nih!”sahutku. Astrid menghampiriku. “Ayolah jo, aku takut
sendirian”ujarnya lagi memaksa. Mau tak mau aku harus
menemaninya. “Ok deh!”sahutku lalu
meninggalkan kelas. Aku tak tahu bahwa map
fileku belum kututup. Dan kejadian yang tak akan kulupakan akan terjadi pada
hari ini dengan Randy. * Randy masuk lalu mengambil
tempat duduk di sebelah Joanne. Dua bangku sebelumnya. Lalu dia melihat map
file Joanne terbuka. Randy ingin mengetahui catatan pelajaran Joanne yang belum
sempat dia tulis. Dibukanya satu persatu. Dan tepat di halaman paling tengah.
Dia membacanya. Kemudian tertegun sebentar. Dia sempat menutup kembali map
Joanne. Tak berani membukanya. Tapi, hatinya berlawanan. Dibukanya kembali map
file itu. Dan kemudian dibacanya. September, Wah…seneng skali aq
bisa kenal sm randy…r.a.n.d.y…rasanya gmn? Gitu. Biar aq jahat sama dia tp
sebenarnya aq suka.. Hah? Joanne naksir aku?
Pikir randy. Dia kegeeran abiz. Tapi, belum sempat dia habis membacanya. Tiba-tiba
Joanne sudah berada di depannya. Randy terkejut seketika. Jantungnya berdetak
kencang. Sedikit menahan senang dan malu. Raut muka Joanne
menatapnya seakan seperti mau menelannya hidup-hidup. Membuatnya tidak bisa
berkutik sedetikpun. Dia hanya memikirkan apa yang akan dikatakannya pada
Joanne. Sebuah alasan. Pikir randy cemas Tapi…. Rona muka Joanne
mengisyaratkan kebencian.pikir randy “Ngapain kamu
disini?”bentakku. “Aku…tadi mau pinjam
bukumu”sahut Randy gugup. “Bukuku? Terus ngapain
kamu lihat sampai jauh?”sambungku lagi. Sebenarnya, aku
takut..apakah dia sudah membaca catatan kecilku itu. “Nggak kok!”ujarnya “Aku ngeliat pake mata
kepalaku sendiri, kalau kamu baca halaman itu kan?”ujarku spontan menjambak
rambutnya.. “Nggak!sumpah!”jawab randy
ketakutan. “Kamu baca kan?kamu baca
kan?”bentakku padanya. Aku sepertinya kesetanan. Gimana nggak, sebenarnya aku
malu setengah mati. Malah mungkin benar-benar mati. Dan, mulai detik ini aku
begitu membencinya sampai aku menyadari bahwa aku memang sangat mencintainya. Tapi, aku tidak tahu bahwa
sebenarnya dia menganggapku benar-benar benci padanya. Sampai akhirnya, aku dan
dia tak saling bertegur sapa. Sampai akhirnya, dia…. Dia…salah mengerti. * BAB 2
6 bulan kemudian….. Wah…hari ini adalah hari
pertama dimana aku akan mengetahui hasil semester awalku. Ipku kira-kira bagus
tidak ya? Pikirku gelisah. Aku berdiri mengantri
panggilan. Dan tiba-tiba astrid memanggilku dari jauh. Dia berlari-lari,
sepertinya ada yang penting. “Hei Jo, kesini
sebentar!”teriak astrid padaku. Aku keluar dari barisan
dan menghampirinya. “Ada apa?”tanyaku padanya. Dia menarik napas
dalam-dalam. Membuatku sedikit penasaran. “Jo, aku beritahu kamu
sesuatu. Tapi, janji jangan terkejut?”ujarnya. Aku mengernyitkan alis.
Tak mengerti. “Iya, apa?”tanyaku. Astrid terdiam sesaat. Lalu
melanjutkan kembali. “Jo, kamu jangan sedih ya,
si Randy nilainya tertinggi dari seluruh mahasiswa kelas kita”ujarnya mengejutkanku. Tak percaya….benarkah?
pandai sekali dia? “Terus?apa yang membuat
sedih?”tanyaku. Bukankah itu hal yang menggembirakan? Astrid kembali terdiam
sejenak. Dan menatapku dalam-dalam. “Jo, randy dipindahkan di
Surabaya selama dua tahun”ujarnya menjelaskan. |
| Leave a Comment: |