Entry: LoVeNa Thursday, August 31, 2006



Apa mungkin dia sekarang ada di ruangan bersama temannya itu. Jika aku kembali. Mukaku ditaruh dimana?

            Malu…………

            “Hei Andi, sorry aku telat!”seru Randy tiba-tiba berada di belakang Andi. Andi hanya senyum-senyum sendiri.

            Randy merasa curiga. Dia tidak melihat satu-satunya cewek di grupnya.

            “Andi, Si manis mana?”Tanya Randy

            Andi diam saja. Lalu bicara.

            “Dia sudah pergi”jawabnya

            “Kemana?memang dia nggak ikut?”Tanya Randy

            Andi menggeleng.

            “Gila, padahal lima belas menit lagi berangkat!”sahut randy cemas.

            Randy terdiam. Lalu pergi meninggalkan temannya itu. Andi hanya bisa tertawa sendiri.

            Batin Andi. Ck..ck..ck..ternyata mereka sudah saling jatuh cinta.

*

            Aku duduk melamun sendirian. Sebaiknya, aku meninggalkan kampus ini saja. Lebih baik pulang ke solo saja. Daripada aku kembali kesana mendapatkan malu. Pergi saja. Aku beranjak keluar menuju pintu gerbang. Dengan langkah yang sangat lambat. Seperti orang yang enggan berjalan. Sebentar-sebentar berhenti. Lalu jalan lagi.

            Kebingungan….

            Pintu gerbang sudah kulewati. Yups! Pulang saja deh! Akhirnya, aku berinisiatif pulang ke solo saja. Kuberhentikan angkutan umum itu. Lalu berlanjut naik bis kota ke arah solo. Tidak begitu jauh kan?pikirku.

            Aku mengambil kursi paling belakang. Karena memang tinggal satu. Gelisah hatiku memikirkan Randy. Jika saja tadi aku tidak keluar mencarinya. Akan lain cerita.

            Tanpa sengaja aku menoleh kebelakang. Melihat ke jendela. Iya..aku melihat Randy keluar di pintu gerbang. Itu dia!pikirku. Keluar atau tidak ya! Tapi, rasa gengsiku sangat besar. Jika aku turun menemuinya, pasti dia bakal gede rasa.

            Dan dia akan menertawakanku.

            Tatapanku ternyata diterima olehnya. Dia melihatku. Aduh…segera saja aku membuang mukaku jauh-jauh. Menatap depan.

            Tapi, sepertinya aku mendengar dia memanggilku.

            “Joanne”panggilnya. Tapi, aku tak menggubrisnya. Tapi….tapi…hatiku berlawanan. Aku memberhentikan laju angkutan ini.

            “Stop pak!”seruku lalu beranjak turun dan membayar ongkosnya.

            Tapi, aku tidak berani menatap kebelakang.

            Sampai akhirnya, menoleh juga padanya. Dia menghampiriku. Napasnya sesak. Karena tadi, dia mengejarku.

            Sedikit gede rasa. Aku tersenyum padanya.

            “Kenapa kamu pergi?”tanyanya. Ingin sekali aku menjawab, karena aku mencarimu. Gumamku.

            “A…aku, tadi mamaku telpon, ada urusan penting. Tapi sepertinya tidak jadi”sahutku seperti biasa berkelit. Membohonginya.

            “Terus?”sambungnya lagi.

            “Ya terus aku kembali lagi”jawabku ketus.

            “Oh…”

            He…he..he..benar-benar GEER.

            Tiba-tiba aku melihat bis untuk ke kaliurang sudah berangkat satu persatu. Dan mereka semua sudah pergi meninggalkanku berdua dengan Randy.

            “Randy..randy, bisnya sudah berangkat,kita ditinggal”seruku sambil mengejar laju bis itu.

            “Woi…teman-teman, aku disini!”teriak Randy.

            Tapi….bisnya sudah tak kelihatan lagi. Semakin dikejar semakin menjauh. Terus, apa yang akan kulakukan? Tanyaku.

            Kami berdua terdiam dalam keheningan.

            Sekarang sudah pukul sembilan malam. Ah…aku menatap Randy. Dan dia menatapku juga. Mata kami beradu pandang. Tampak kemerah-merahan dari wajahnya. Sepertinya rona mukaku juga berubah. Aku malu sekali.

            Randy tersenyum. Sesaat kemudian dia tertawa terbahak-bahak.

            “Kenapa kamu?”tanyaku gusar.

            Tapi dia tetap tertawa. Memang, apanya yang lucu?

            “Dasar sapi kamu!”ejekku padanya.

            “Ya kamu! Keledai, tulalit alias telat mikir!”jawabnya.

            “Eh…ya kamu yang bego, sudah tahu aku pergi ngapain nyusul?” tanyaku.

            Dia terdiam. Menatapku. Lalu melangkah pergi.

            “Hei, kamu kemana?”tanyaku mengejarnya.

            “Pulang ke kos-kosan!”sahutnya.

            Apa? Pulang? Yah…tidak ada hari indah berdua dengannya. Gerutuku.

            Aku melihatnya sudah jauh dariku. Jauh…jauh…sekali.

            Tapi, dia dekat di hatiku.

*

            “Ma, kenapa mama nggak datang menjenguk papa?”pintaku padanya. Wanita itu usianya sudah menginjak empat puluh lima tahun. Kerutan diwajahnya semakin lama semakin terlihat. Rambutnya lurus sebahu dan berkulit putih. Kok, beda denganku ya? Mungkinkah aku bukan anaknya?tanyaku.

            Tidak mungkin, karena aku terkena gen dari papaku. Jadi kulitku coklat.

            Dia memelukku. Kemudian menangis tersedu.

            “Mama tidak sanggup sayang?”sahutnya sambil terisak-isak.

            “Ma, papa sakit. Tidak ada yang merawat papa sekarang”jawabku.

            Dia terdiam.

            “Joanne, mama dan papa sudah tidak ada hubungan lagi”ujarnya

            Aku menangis. Air mataku mengalir deras tiada henti.

            “Ja..jadi, mama nggak perduli kalau papa sampai mati?”ujarku terisak-isak.

            Mama kembali memelukku.

            “Tidak sayang, jangan berkata seperti itu, sekarang kamulah yang bisa menolongnya”jawabnya tegas.

            “Nggak, aku benci mama!aku nggak mau nemuin mama lagi, aku benci!”teriakku lalu meninggalkannya di rumah itu. Bukan rumahku, melainkan rumah suaminya yang baru.

            Sebenarnya, mama meninggalkan papa karena memang dulu papa selingkuh dengan wanita lain. Tapi, apakah satu kesalahan harus dibalas dengan kesalahan juga?tanyaku dalam hati.

            Tidak bukan? Semuanya seolah pergi dariku. Sekarang, yang menemani papa adalah selingkuhannya itu. Jika tiba-tiba datang ke rumah papa. Selalu yang kulihat dia. Makanya aku meminta mama supaya menjenguknya. Biar wanita jalang itu tak berani mengganggu papa lagi.

            Tangisanku tak berarti buat mama. Tak berarti sama sekali. Walaupun aku memohon dan menyembah sujud padanya. Tak ada gunanya. Mereka egois.

            Aku hanyalah anak satu-satunya. Tak ada yang memberiku kasih sayang. Disaat aku sangat membutuhkan mereka. Tapi, mereka hanya menuruti keinginannya sendiri.

            Tak penting…biar aku mati juga tak ada yang menangisiku.

            Tak ada satupun. Buat apa aku dilahirkan di dunia ini? Buat apa?

            Jika mereka tidak menginginkanku berada disisinya.

*

            Aku dan Randy dipanggil oleh ketua HIMA. Karena tidak mengikuti acara Camp. Kami berdua hanya terdiam. Tak berani bicara sedikitpun. Mereka semua berkumpul menginterogasiku dan randy. Tapi, kelihatannya Randy santai-santai saja. Tidak gentar sedikit pun.

            “Kalian, kemana?”Tanya ketua HIMA

            Aku merasa gugup sekali. Gemetaran.

            “Sa…saya, tiba-tiba ada urusan, ayah saya mendadak sakit parah”sahutku padanya. Memang benar, papaku sedang sakit.

            Tiba-tiba Ketua HIMA menggebrak meja.

            “Kamu tahu apa hukumannya?”ujarnya menakutiku.

            Aku menggeleng tidak tahu.

            “Kamu bakal tidak diluluskan”ujarnya membuatku semakin ketakutan.

            Lalu dia mulai menanyai Randy. Aku ingin tahu reaksinya.

            “Lalu kamu!kemana?”bentaknya. sedikit beda denganku. Mungkin karena aku cewek.

            “Acara itu sama sekali nggak penting”sahutnya mengejutkan mereka. Begitu juga aku.

            “Apa katamu?”

            “Maaf saya banyak tugas penting, lebih penting dari ini, oh ya kenapa kamu mengancamnya? Kamu tahu kalau aku ini anak dari salah satu rector disini”ujarnya.

            Apa? Anaknya rector?

            “Benarkah?siapa?”Tanya Ketua HIMA itu sedikit kikuk.

            “Nggak perlu tahu!”sahutnya santai lalu meninggalkan mereka dan aku sendirian.

            “Ran..randy, tunggu aku!”seruku padanya.

            Sepertinya, randy benar-benar hebat. Dia berbohong untuk menakuti mereka semuanya. Wow…simpatiku bertambah lagi satu poin.

*

            Aku terkesima olehnya. Dia sudah membelaku habis-habisan. Ce..i..le…katanya benci, kok jadi seperti ini?

            “Ran..randy, makasih ya tadi kamu su..”ujarku padanya. Tapi sudah diputus olehnya.

            “Halah…sudahlah, nggak usah basa-basi pake trima kasih segala”sahutnya memotong pembicaraanku.

            Kok, tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat.

            Tadi baik lalu berubah kejam. Gimana sih?

            “Aku nggak bermaksud untuk…”ujarku lagi.

            Tapi dia tetap cuek. Benci aku tipe cowok kayak gini. Benar-benar bikin aku bete abis. Bisa dibayangkan gimana kalau nanti aku jadi ceweknya. Pasti yang terjadi hanyalah pertengkaran-pertengkaran. Tapi, ini kan sudah menjadi bagian dari janjiku. Bahwa, lebih baik membenci dulu daripada mencintai. Karena benci bisa jadi cinta.

            Aku membolak-balik halaman fileku. Lalu astrid memanggilku.

            “Jo, anterin aku ke kamar mandi dong!”pintanya padaku.

            “Berangkat sendiri deh, lagi males nih!”sahutku.

            Astrid menghampiriku.

            “Ayolah jo, aku takut sendirian”ujarnya lagi memaksa.

            Mau tak mau aku harus menemaninya.

            “Ok deh!”sahutku lalu meninggalkan kelas.

            Aku tak tahu bahwa map fileku belum kututup. Dan kejadian yang tak akan kulupakan akan terjadi pada hari ini dengan Randy.

*

            Randy masuk lalu mengambil tempat duduk di sebelah Joanne. Dua bangku sebelumnya. Lalu dia melihat map file Joanne terbuka. Randy ingin mengetahui catatan pelajaran Joanne yang belum sempat dia tulis. Dibukanya satu persatu. Dan tepat di halaman paling tengah. Dia membacanya. Kemudian tertegun sebentar. Dia sempat menutup kembali map Joanne. Tak berani membukanya. Tapi, hatinya berlawanan. Dibukanya kembali map file itu. Dan kemudian dibacanya.

            September,

            Wah…seneng skali aq bisa kenal sm randy…r.a.n.d.y…rasanya gmn? Gitu. Biar aq jahat sama dia tp sebenarnya aq suka..

            Hah? Joanne naksir aku? Pikir randy. Dia kegeeran abiz. Tapi, belum sempat dia habis membacanya. Tiba-tiba Joanne sudah berada di depannya. Randy terkejut seketika. Jantungnya berdetak kencang. Sedikit menahan senang dan malu.

            Raut muka Joanne menatapnya seakan seperti mau menelannya hidup-hidup. Membuatnya tidak bisa berkutik sedetikpun. Dia hanya memikirkan apa yang akan dikatakannya pada Joanne. Sebuah alasan. Pikir randy cemas

            Tapi….

            Rona muka Joanne mengisyaratkan kebencian.pikir randy

            “Ngapain kamu disini?”bentakku.

            “Aku…tadi mau pinjam bukumu”sahut Randy gugup.

            “Bukuku? Terus ngapain kamu lihat sampai jauh?”sambungku lagi.

            Sebenarnya, aku takut..apakah dia sudah membaca catatan kecilku itu.

            “Nggak kok!”ujarnya

            “Aku ngeliat pake mata kepalaku sendiri, kalau kamu baca halaman itu kan?”ujarku spontan menjambak rambutnya..

            “Nggak!sumpah!”jawab randy ketakutan.

            “Kamu baca kan?kamu baca kan?”bentakku padanya. Aku sepertinya kesetanan. Gimana nggak, sebenarnya aku malu setengah mati. Malah mungkin benar-benar mati.

            Dan, mulai detik ini aku begitu membencinya sampai aku menyadari bahwa aku memang sangat mencintainya.

            Tapi, aku tidak tahu bahwa sebenarnya dia menganggapku benar-benar benci padanya. Sampai akhirnya, aku dan dia tak saling bertegur sapa.

            Sampai akhirnya, dia….

            Dia…salah mengerti.

*

BAB 2

 

6 bulan kemudian…..

 

            Wah…hari ini adalah hari pertama dimana aku akan mengetahui hasil semester awalku. Ipku kira-kira bagus tidak ya? Pikirku gelisah.

            Aku berdiri mengantri panggilan. Dan tiba-tiba astrid memanggilku dari jauh. Dia berlari-lari, sepertinya ada yang penting.

            “Hei Jo, kesini sebentar!”teriak astrid padaku.

            Aku keluar dari barisan dan menghampirinya.

            “Ada apa?”tanyaku padanya.

            Dia menarik napas dalam-dalam. Membuatku sedikit penasaran.

            “Jo, aku beritahu kamu sesuatu. Tapi, janji jangan terkejut?”ujarnya.

            Aku mengernyitkan alis. Tak mengerti.

            “Iya, apa?”tanyaku.

            Astrid terdiam sesaat. Lalu melanjutkan kembali.

            “Jo, kamu jangan sedih ya, si Randy nilainya tertinggi dari seluruh mahasiswa kelas kita”ujarnya mengejutkanku.

            Tak percaya….benarkah? pandai sekali dia?

            “Terus?apa yang membuat sedih?”tanyaku. Bukankah itu hal yang menggembirakan?

            Astrid kembali terdiam sejenak. Dan menatapku dalam-dalam.

            “Jo, randy dipindahkan di Surabaya selama dua tahun”ujarnya menjelaskan.

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments