Entry: LoVeNa Thursday, August 31, 2006



Aku berjalan melewati area parkir sepeda motor. Tiba-tiba tatapanku tertuju pada cowok itu. Randy. Dia juga melihatku. Mungkinkah, dia akan membalas dendam kemarin siang?

            Apa aku akan ditamparnya?

            Dia berjalan menghampiriku.

            Lalu dia menatapku dalam-dalam. Tatapannya mengisyaratkan sesuatu.

            Tapi, aku tetaplah aku.

            Aku pintar menyembunyikan perasaanku sebenarnya. Berkelit dengan kebencian.

            "Apa lihat-lihat? Pake mata lagi?!"bentakku padanya.

            "Heh, si manis. Kamu itu salah, kenapa lewat area parkir? Kamu ngelamun ya?!"ujarnya meledekku.

            Aku tidak terima."Biar lewat parkir, disini lebih dekat dari kelas tahu!sok ngerti kamu!"sahutku dongkol.

            "Minggir!aku mau lewat, ini bukan jalannya bapakmu tahu!"sahutnya membalasku dengan kejam.

            "Apa? Kau menghina papaku?"ujarku padanya menghampirinya.

            Dia berhenti berjalan dan menoleh padaku.

            "Kenapa?"sahutnya lalu pergi meninggalkanku.

            "Brengsek!cowok sialan!"seruku membalas ejekannya.

            Tapi, dia berlalu dengan santai. Padahal hatiku masih kebat-kebit tak karuan.

*

            Tatapanku yang tajam tidak lepas-lepas darinya. Dia duduk tepat disebelahku. Kenapa dia bisa duduk di sini? Enak aja.gerutuku dalam hati.

            Tapi, dia malah tersenyum sinis.

            Gila nih cowok!pikirku.

            "Pinjam bukumu?"pintanya padaku lalu mengambil bukuku dengan kasar.

            "Kau lancang kuyak, kembalikan!"sahutku

            "Apa?kau bilang?"sahutnya marah.

            "Brengsek!"hinaku padanya lalu membuang muka.

            Dasar cowok tidak punya perasaan.

            Kami berdua terdiam. Suasana menjadi hening……….

            Gimana aku bisa suka sama tipe cowok macam dia sih? Tanyaku dalam hati.

            (Bisa saja, karena hati tak pernah bohong kok!) Sahut suara hatiku mengadu.

            Tapi, dia nyebelin!

            (Itu kebalikannya. Ujar suara hatiku lagi.)

            Sok tahu kamu.

            (Ya udah kalau nggak percaya.)

            Tiba-tiba lamunanku buyar seketika. Saat dosen itu mengabsenku.

            "Joanne…joanne"panggil dosen itu.

            "E…saya pak!"sahutku sedikit gugup.

            "Kenapa tidak dijawab-jawab?"tanyanya.

            Aku hanya bisa meringis seperti orang bego.

            Aku menatap Randy. Tapi, dia tetap dingin seperti es.

            Maksud hati tak bisa ditebak.

 

            Akhirnya, dosen itu selesai mengabsen dan kuliah telah usai. Sekarang ada pertemuan dengan semua mahasiswa tentang acara week camp di Kaliurang minggu depan.

            Aku dan Astrid bergegas menuju ruangan itu. Dan lagi-lagi pandanganku tertuju pada Randy. Si Cowok peribut kelas.

            Saat dia membalas tatapanku. Aku membuang muka.

            Pikirnya, aku adalah cewek yang sombong.

            Terlihat beberapa ketua HIMA dan anggotanya masuk dengan membawa beberapa kertas. Lalu berdiri dan memulai acara.

            "Yah, sekarang saya akan membagi anggota dari kelas A sampai E"ujarnya menerangkan dengan tegas.

            Lalu mereka membagikan kertas pada kami semua. Satu persatu.

            Daftar pembagian kelompok.

            Aku membacanya satu persatu.

            "Hahh?"seruku terkejut.

            Astrid penasaran. "Ada apa Jo?"tanyannya.

            Aku tak bisa berkata-kata.

            "Aku kelas E, kamu?"tanyaku

            Astrid memandangku lalu membaca lagi.

            "Maaf, kita nggak bisa sama-sama jo, aku kelas B"sahutnya sedih.

            Aku hanya bisa terdiam. Karena, ternyata aku sekelompok dengan Randy.

            Habis sudah. Habis…..

            "Ya, kalau sudah silahkan berkumpul dengan kelompoknya masing-masing"seru Ketua HIMA.

            Apa? Kumpul? Tidak!

            Aku hanya bisa diam tak beranjak sedikitpun.

            Astrid sudah mencari kelompoknya sendiri.

            Dan aku ditinggal sendirian. Kayak orang bego yang kehilangan induknya.

            Tiba-tiba aku ditabrak oleh seseorang dari belakang.

            "Ra..randy, kok kamu maen tabrak-tabrakan gitu sih?"kataku padanya sambil marah.

            Aku menggerutu.

            "Mana kelompokmu?sudah ketemu?"tanyanya padaku.

            Gimana aku bisa jawab? Orang kita sama kelompoknya.

            "Randy, hei kita disini woi!"seru Cowok itu melambaikan tangannya. Memanggil Randy.

            Randy tersenyum dan menghampirinya.

            Aku dicuekin gitu aja.

            Terpaksa dengan langkah pelan-pelan aku berjalan mengikutinya.

            Tubuhnya tegap. Tinggi sekitar seratus tujuh puluhan lebih. Dan rambutnya lurus rapi. Kulitnya putih dan…dia

            Dia telah berhasil menarik perhatianku.

            Tapi, dia tidak akan tahu maksud hatiku.

            Dibelakangku ada rasa cinta…

            Tapi, jika di depannya ada rasa benci.

            Kira-kira apa kalian bisa menebaknya?

            Kurasa pasti bisa bukan?

            Aku tersenyum sendiri. Jika kalian menebak ini rasa gengsi, jawabannya benar seratus persen. Gimana nggak? Kalau dia tahu aku suka padanya bisa malu. Terus mau dikemanakan mukaku ini. Iya kalau kulitku setebal kulit badak.

            "Semua sudah berkumpul dengan anggotanya?"Tanya ketua HIMA.

            Lalu, aku dipanggil oleh ketua itu.

            "Mbak, kamu kok masih sendirian?mana kelompokmu?"tanyanya.

            "Su..sudah kok!"sahutku langsung mengambil tempat di belakang Randy.

            Dia menoleh kearahku. Aku terlihat gugup.

            Mati aku. Apa dia melihat kalau kakiku gemetaran?

            Aku menggoyang-goyangkan kakiku. Supaya dia tidak memperhatikanku.

            Dan sepintas aku melihatnya tersenyum padaku.

            Aku membalas senyumnya. He..he..he…he..he…

            Lalu dia berbalik ke depan.

*

            Aku mengambil spidolku dan mengambil map fileku. Ditengah-tengah kertas itu aku selalu menulis catatan harianku. Tak ada yang tahu selain aku sendiri.

            Aku mulai menulis.

            September      

            Hari ini rasanya hatiku dag..dig..dug. gmn nggak, besok aku akan camping bersamanya. Bersama Randy..r..a..n..d..y..he..he..he..

 

            Aku menutup map fileku lalu mengambil hanphoneku. Dan mulai mengsms mama dan papa. Seperti biasa jika kantongku sudah mulai tipis.

            To: mama

            Ma, jo bsk mau camp.

Uang jo hbs. Bsk krim ya.bls.

Send…delivered.

            Yups! Pasti mama besok lansung transfer tuh uang!

            Sekarang, sms papa….

            To: papa

            Pa, jo bsk mau camp.

Uang jo hbs. Bsk krim ya.bls.

Send…delivered.

            Akhirnya, besok aku dapat uang dobel nih! Biar aja, aku suka morotin mereka. Salah mereka sendiri kenapa ninggalin anaknya sendirian disini. Biar mereka susah.

            Hatiku berbunga-bunga. Persiapan camp besok malam. Aku dan randy akan bersama selama tiga hari di kaliurang.

            Cinta oh…cinta deritanya tiada akhir….seperti puisi yang selalu dilantunkan oleh Ti pat kai. Sampai menjalani seribu macam penderitaan karena cinta. Jika cinta bisa mengalahkan benci. Maka adakalanya seorang yang sangat membenci orang itu berubah menjadi cinta. Dan ada pula sebaliknya, ada orang yang saling mencintai pasangannya. Tiba-tiba berubah menjadi kebencian.

            Seperti yang kualami. Papa dan mamaku dulu saling mencintai tapi, akhirnya saling membenci.

            Jadi, demi kebaikanku. Aku punya cara sendiri mencintai seseorang.

            Dengan membencinya.

*

            Astrid kebingungan membawa perlengkapan campnya. Padahal Cuma tiga hari, tapi bawaannya seperti para TKI yang akan berimigrasi ke Malaysia. Banyak sekali! He..he..he…

            Kalau aku, cukup membawa dua baju saja. Satu celana dan makanan. Juga uang. Pokoknya, kalau bawa uang semua bisa dibeli deh!J

            "Jo, bantuin aku dong!berat nih!"pinta Astrid padaku.

            Aku meringis.

            "Kamu juga sih, emang bawa apaan?"tanyaku padanya.

            Astrid menggendong tasnya. Dengan penuh beban.

            Lucu….lucu sekali.

            "Mamaku cemas banget ama aku, tahu nggak kalau aku dibawain baju banyak, makanan super jumbo deh!"ujarnya

            Wow..!masih enak kamu ada yang nyiapin. Sedang aku? Tidak ada satupun dari mereka yang membantu menyiapkan peralatan campku.

            "Enak ya!"sahutku padanya.

            Astrid memberhentikan langkahnya lalu, duduk. Dia tidak kuat lagi mengangkat beban yang begitu berat.

            "Sudah…sudah, bekalku aku kasih ke kamu aja deh!"ujar astrid kepayahan.

            "Ah, yang bener nih!mau dong makanan buatan mamamu"sahutku girang.

            Astrid mengeluarkan semua isi tasnya.

            Ck….ck…ck….bener-bener bejibun.

            (Astrid kamu mau minggat ya?)

            Pandanganku beralih ke semua sudut ruangan. Dimana dia ya? Apa dia tidak ikut camp?tanyaku dalam hati. Penasaran.

            Ah….kalau dia tidak ikut, hatiku yang kebat-kebit nggak ada lagi.

            "Ya, semuanya kumpul dengan kelompoknya masing-masing"seru panitia itu.

            Astrid kebingungan. Barang-barang yang dikeluarkannya tadi, sekarang dimasukkan ketasnya lagi. Sepertinya, tasnya tidak muat.

            Dan, Astrid diketawain oleh semua teman-temannya.

            Aku tak tinggal diam."Heh, ngapain ketawa? Ada yang lucu ya?!"bentakku ke mereka.

            Dan mereka terdiam. Belum tahu siapa Joanne!

            (Joanne kan sebenarnya penakut!ce..i..lee)

            Setelah membantu astrid mengemasi isi tasnya. Dia lalu pergi meninggalkanku untuk berkumpul dengan kelompoknya. Yah…jangan pergi dong astrid. Aku merasa kikuk menuju kelompokku. Kenapa? Karena yang berjenis kelamin cewek cuma aku. Ha..ha..ha…(ironis memang) kenapa cuma aku?

            Karena, aku masuk dalam daftar sisa-sisa. Kelas E….hualah….kelas paling buncrit. Makanya, aku nggak suka sama kelompok ini. Ada sukanya, ada nggaknya. Sukanya, aku bisa ngelihat mukanya si Randy. Nggaknya, so pasti semuanya dijagain ke aku. Tapi, biar pun kelompokku banyak cowoknya. Yang ini penting. Pastilah tendaku khusus para wanita.Cuma kelompoknya aja yang beda. He..he..he..sempat stress dengan yang satu ini. Aku pikir bakalan sama mereka. Memangnya, aku ini stupid apa? Candaku dalam hati.

*

 

            Sudah dua jam aku menanti kedatangan cowok itu. Batang hidungnya tidak kelihatan sama sekali. Kemana perginya dia ya? Tanyaku dalam hati.

            Gelisah menanti.

            Berkali-kali aku ditanyai oleh panitia. Tapi, aku harus jawab apa? Siapa yang tahu keberadaannya dimana? Apa dia lupa kalau hari ini camp di kaliurang?

            Terdengar suara orang berlari-lari menuju ruangan. Aku menoleh kebelakang. Mungkinkah itu Randy?

            Tidak…..

            Bukan dirinya. Melainkan salah satu temannya yang juga sekelompok denganku.

            Dia menghampiri panitia. Meminta maaf atas keterlambatannya. Lalu beralih menuju grup kami.

            Aku kecewa. Tak menggubris sapaannya.

            Tapi, dengan segala keberanianku, akhirnya aku bertanya padanya.

            "Dimana Randy?"tanyaku padanya penasaran.

            Dia terdiam.

            "Randy, batal ikut camp"ujarnya

            Aku terkejut setengah mati. Mungkin, benar-benar mati.

            "Apa?kenapa?"tanyaku semakin penasaran.

            "Entah, katanya ada sesuatu yang penting yang harus dikerjakannya"ujarnya menjelaskan.

            "Lebih penting dari ini?"tanyaku

            Dia mengangguk.

            "Sekarang, dia kemana?"tanyaku ingin tahu lebih jelas.

            "Di kampus ini, tepatnya dia sekarang di Internet"jawabnya menjelaskan semuanya.

            Aku langsung mengambil tasku dan pergi meninggalkan ruangan. Tak kugubris panitia itu memanggilku. Aku tidak bisa pergi jika Randy tidak ikut.

            Segera aku berlari menuju Warnet. Aku mencarinya. Tapi….dia sudah tidak ada. Aku mencari kemana lagi? Apa dia berbohong?

            Kurang ajar sekali kalau sampai dia bohong padaku. Joanne bisa-bisanya ditipu mentah-mentah. Gerutuku.

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments