Entry: LoVeNa Thursday, August 31, 2006



Lovena JOanne

 

Sinopsis:

Joanne  adalah seorang cewek yang berusia sembilan belas tahun. Berkuliah di  Universitas Gadjah Mada. Joanne tinggal dengan saudara sepupunya di solo. Tapi, ngekost sewaktu kuliah di Yogyakarta. Setiap hari sabtu dan minggu dia pulang ke solo. Hidupnya berubah seketika saat dia tanpa sengaja bertemu dengan Randy, teman sekampusnya. Joanne merasa tertarik dengan Randy. Akan tetapi, dia sepertinya harus menahan rasa cintanya yang mendalam karena Randy ternyata  menunjukkan sikap acuh tak acuh padanya. Joanne hanya bisa menyembunyikan perasaannya dengan pura-pura membencinya. Karena hanya dengan cara itulah Joan merasa bisa lebih dekat dengan Randy.

Dan, ketika saatnya Joan memberanikan dirinya untuk mengungkapkan perasaannya pada Randy. Ternyata, Randy ditugaskan untuk kuliah di Surabaya. Kekecewaan terjadi pada diri Joanne. Karena..ternyata, apa yang Joanne perkirakan semuanya salah.

 

Karakter Tokoh:

1. Joanne          : Cerewet, usil dan suka jaim

2. Randy          :  Cuek, tapi suka menyimpan perasaan.

 

Latar belakang:

Kehidupan seorang cewek yang mencintai seseorang tapi, terlambat menyatakannya. Tak ada kata penyesalan.

 

Amanat:

Kalau suka langsung katakan saja. Tidak usah berpura-pura membenci, karena siapa tahu yang dibenci ternyata menganggapnya benar-benar benci. Maka, jadi cewek harus konsekuen dengan semua perkataannya.

 

***

BAB 1

 

Randy akan pergi minggu depan. Pergi ke Surabaya.

            Randy adalah seorang cowok berusia dua puluh empat tahun. Kuliah mengambil jurusan Desain Grafis komputer. Randy tergolong mahasiswa yang pintar. Dan nilai Ipnya diatas rata-rata tiga koma nol-nol. Dan dia termasuk cowok yang supel, banyak bergaul dan punya banyak teman.

Randy akan pergi dalam kurun waktu seratus enam puluh delapan jam dari sekarang.

            Randy itu gemar membaca buku. Setiap hari dia meminjam buku teman-temannya. Dia juga mempunyai musuh. Musuh Randy berjenis kelamin cewek. Bernama Joanne, usianya lima tahun dibawah Randy. Dia sangat manis. Bahkan Randy sering menyebutnya si hitam dan jelek. Maka dari itulah Randy dan Joanne saling bermusuhan.

Randy akan pergi dalam detik ke enam ratus empat ribu delapan ratus. Dan kepergiannya akan membuat hati Joanne menderita.

            Randy memandang Joanne penuh arti. Tidak…dia hanya menatap fotonya saja. Tidak lebih!

            Tapi, perkataan Joanne yang selalu mengisyaratkan kebencian membuatnya menjadi penuh keraguan.

Joanne adalah aku sendiri.

            Dan saat ini, aku menanti waktu kepergian Randy meninggalkanku.

Detik demi detik…..

Jam demi jam….

Hari demi hari….

Tahun demi tahun….

Sampai waktunya tiba aku mengatakan suka padanya.

Bukankah penantian itu lama sekali, padahal…..

            Aku tidak suka menanti. Dan juga aku merasa gengsi…karena aku cewek.

*

 

            “Berisik tahu!”seruku pada cowok itu. Baru saja masuk kelas baru. Tingkahnya sudah membuat seisi kelas menjadi seperti layaknya pasar Kempreyeng. Cowok itu memandangku. Lalu akhirnya terdiam membisu. Sebenarnya, siapa dia?kurasa aku akan tahu setelah daftar absen dibacakan oleh Dosen itu. Dan, sepertinya dia sudah mencuri perhatian pertamaku dikelas ini.

            Seorang lelaki bertubuh tegap masuk kedalam ruangan. Tingginya berkisar antara seratus tujuhpuluh sentimeter kubik. He..he..he…nggak pakai kubik. Dia meletakkan tasnya yang besar. Mungkinkah tasnya itu berisi beberapa bom. Berkhayal lagi.

            Pandangannya tertuju padaku. karena…..karena….karena…..

            Benar! Aku duduk tepat didepan dosen itu. Dia tersenyum padaku. akupun tersenyum padanya.

            He..he..he…he…

            “Manis, siapa namamu?”sapanya padaku. tapi, pastilah aku sedikit jaim. Sambil berdehem aku menoleh kesamping lalu kebelakang.

            “Siapa?saya?”tanyaku pura-pura tidak tahu.

            Busyet!aku dipanggil si manis? Memangnya aku ini seekor kucing? Yah…kulitku memang hitam. Bukan sih! Tapi, sawo matang. Dibandingkan dengan cowok peribut itu, aku tidak ada apa-apanya.

            “Iya, kamu mbak!memangnya disini yang hitam siapa selain kamu!”ujarnya mengejekku.

            Brengsek! Dosen ini mengolok-olokku. Nggak sopan!gerutuku.

            “Nama saya Joanne”sahutku kikuk.

            Aku cemberut. Dan, semua mahasiswa di kelas ini menertawaiku.

            Kurang ajar!awas kalian. Gertakku sambil menunduk malu. Tapi, sepintas aku melihat cowok peribut itu diam. Tidak ikut tertawa seperti yang lainnya.

            Benar-benar! Dia…

            Mencuri perhatianku.

            Disaat mereka semua mengejekku. Hanya dia yang diam membisu. Dan memandangku.

            Aku simpati.

*

 

 

            Pukul 10.00 wib

            “Sekarang, saya akan memanggil kalian, dan perkenalan pertama ini yang saya suka adalah cewek item yang namanya Joanne”ujarnya. Membuatku tambah malu. Malu luar biasa.

            “Astrid”panggil dosen itu.

            “Saya pak!”jawab cewek berbaju biru itu.

            “Aziz, B…C…D…E…F…G…H…I…Joanne….”panggil dosen itu lalu memberhentikan absennya.

            “Saya pak!”sahutku mengangkat tangan.

            Dosen itu tersenyum.

            Aku tersenyum kecut.

            “Kamu manis sekali, pasti nanti banyak semut mengerubungimu”ujarnya.

            Yah…memang, dimana ada gula disitu pasti ada semut.

            He..he…he…semut menyukaiku karena aku manis seperti gula.

            Tapi, semut apa dulu nih? Jangan-jangan semut daging. Waduh…gawat..bisa mampus aku!candaku dalam hati.

            Aku meringis sendiri. Dan tanpa sengaja aku melihat dia. Dia membalas senyumku. Waduh…hatiku..kebat-kebit.

            Akhirnya sampai juga pada absen dimana dia menjawabnya.

            “Randy!”panggilnya.

            “Saya pak!”aku menoleh seketika itu juga.

            Oh…namanya Randy…pantas keren. Cakep lagi.

            Randy…randy…

            Aku mencatatnya di kertas fileku.

            “Manis!”panggil dosen itu padaku.

            Aku menatapnya.”Iya pak!”sahutku. akhinya, sekarang aku refleks dipanggil dengan sebutan seperti itu.

            “Kamu dan Randy sepertinya cocok, manis dan putih. Seperti kopi sama susu”ejeknya lagi.

            Bulsyiet! Dosen ini menghinaku.

            Aku meringis. Lalu memandang cowok itu.

            Dia hanya terdiam membisu.

*

            “Hei, manis! namamu Joanne ya?dosen itu senang sama kamu ya? Dari tadi yang diperhatiin kamu terus”Ujar astrid menghiburku.

            Aku…sama sekali tidak merasa terhibur.

            “Ah, masa’ sih?sahutku tersenyum kecut.

            Astrid tertawa.”Ha..ha…benar joan, kita sobatan yuk!”ujarnya menyodorkan tangan persahabatan padaku.

            “Aku sih!senang-senang aja”sahutku.

            “Yuk, ke kantin?”pintanya

            Aku mengangguk setuju.”Ayo!”

            Dalam perjalanan menuju kantin. Aku berpapasan dengan cowok peribut itu. Seperti biasa dia bercanda dengan teman-temannya.

            Dan…dia menatapku.

            Disaat yang bersamaan aku mendengar celetukan mereka.

            “Manis, mau kemana?”celetuk mereka semua mengejekku.

            Tapi, cowok itu tidak ikut mengejekku. Tapi, dia terus menatapku.

            Simpatiku bertambah. Tapi…

            Seketika itu berubah Ilfeel. Karena…..ternyata tanpa kuduga dia mengejutkanku.

            “Kopi manis dicampur susu, kira-kira rasanya enak nggak ya?”ujar cowok yang bernama Ran….randy itu. Ikut-ikutan mengejekku.

            “Brengsek!kamu Ran!beraninya kamu ngejek aku?”seruku padanya. Datang menghampirinya. Lalu menamparnya seketika itu juga.

            Dia tertegun. Teman-temannya terhenyak melihatku.

            Astrid hanya melongo.

            “Kok, kamu maen tampar-tamparan gini?kenapa bukan dosen itu aja yang kamu tampar?!!”sahut randy marah.

            Aku terdiam. Menatapnya dalam-dalam.

            Lalu berlalu meninggalkannya. Berlari….

            Astrid mengejarku. Aku….aku….

            Di hari pertama kuliah ini, aku…sakit hati.

            Ditertawakan olehnya, padahal aku simpati padanya. Brengsek! Sok cakep tapi, bermuka dua.

            Tapi, benar juga perkataannya. Kenapa bukan dosen itu saja yang kutampar?kenapa harus dia? Tanyaku resah.

*

            Aku memandang kertas file itu. Tertulis beberapa coretan nama. Inisialnya”R”. r.a.n.d.y.Yup! Randy!

            Kuambil spidol orange dan kulingkari nama itu dan kuberi hiasan. Supaya terlihat lebih hidup.

            “Kurasa tadi siang, aku sudah keterlaluan padanya”ujarku bicara sendiri.

            Kupandang langit-langit kamarku.

            Ah…apa aku perlu minta maaf? Tanyaku dalam hati.

            (Tidak usah saja!kayak nggak punya harga diri. Suara hatiku mengadu.)

            Tapi….

            Sepertinya aku ada rasa padanya. Batinku.

            (Tidak!kamu benci padanya. Jangan terjebak emosi sesaat. Suara hatiku mengadu lagi.)

            “Tapi…dia sepertinya baik”ujarku lagi.

            (Tidak!kalau dia baik, kenapa tadi dia ikutan mengejekmu?berontak suara hatiku lagi.)

            Hiks…hiks…hiks…L

            Aku menangis.

            Kok, di hari pertama kuliah, aku sudah suka sama cowok sih!

            Cowok itu lagi. Bete…..

            Hiks…hiks…hiks….

*

            Randy menata bukunya. Malam ini dia belum pulang karena seharian dia berada di perpustakaan kampus. Hobi Randy adalah membaca. Dan setelah itu bermain internet,chating,browsing.

            Randy memasukkan beberapa disket ditasnya. Buku-buku pelajaran tentang desain grafis yang berjumlah sekitar lima buah. Benar-benar dia seorang kutu buku yang cakep.

            Beda….

            Bila dibandingkan dengan Joanne. Yang hobinya, ternyata cuma ngelamun saja.

            Randy keluar dari perpustakaan. Dihari pertama kuliah masih belum ada mata pelajaran yang diajarkan tetapi, Randy sudah semangat belajar.

            “Randy!”sapa temannya sambil menepuk bahunya dari belakang.

            Randy menoleh.

            “Apa?”sahutnya.

            “Kamu mau pulang?”

            Randy menangguk.”Ya, sudah tiga jam lebih aku di perpustakaan lalu ke internet sebentar”ujar randy.

            “Oh, udah makan belum?”Tanya teman randy.

            Randy menggeleng.”Belum?makanya perutku dari tadi keroncongan”

            “Kalo gitu aku traktir kamu ya?kebetulan dompetku lagi tebel-tebelnya”sahut temannya.

            Randy tersenyum.”Ok!”

            Mereka berlalu dari halaman kampus. Menuju warung.

*

            Randy menyantap makanannya dengan lahap. Benar sekali, dia kelihatan seperti manusia yang belum makan seharian. Biarpun cakep tapi, dia agak rakus juga.

            “Ran, gimana tadi rasanya ditampar sama si manis?”Tanya teman Randy.

            Randy terdiam. Memikirkan sesaat.

            “Andi, si manis itu memang benar-benar manis”sahut randy.

            “Kayaknya kamu suka sama cewek itu ya?”ujar Andi

            Randy terdiam.

            “Kenapa kamu nggak jawab?”sambung andi sambil menggodanya.

            Randy tetap diam.

            Rahasia…tetap rahasia. Biarpun bicara dengan sesama cowok. Tapi, dia agak sensitive dengan yang satu ini.

            “Kalau aku jadi kamu ran, aku bakal balas dia”ujar andi agak geram melihat kediaman Randy.

            “Sudahlah, cewek dimana-mana lemah. Kasihan”sahut randy.

*

            “Vica,aku pergi dulu ya!”pamitku padanya.

            “Ya!salam buat Randy”sahut teman kostku mengejek.

            Aku Joanne, umurku sembilan belas tahun. Kuliah di Universitas Gadjah Mada. Dan setiap hari senin sampai jum’at aku di kost-kosan. Tapi, setiap sabtu dan minggu aku pulang di rumah sepupuku di solo. Hidupku penuh penderitaan. Orang tuaku sudah bercerai. Mereka terlibat cekcok adu mulut. Karena itu sebabnya, aku benci dengan cowok.

            Papa sudah meninggalkanku selama tiga tahun ini. Mamaku juga pergi meninggalkanku sendiri menikah dengan pria lain. Ketahuan kalau sebenarnya siapa yang selingkuh duluan?

            Papa selingkuh..dan mama telah membalasnya.

            Sepertinya, dendam sudah dilaksanakan. Tapi…sekarang, siapa yang lebih menderita?

            Aku…

            Aku ditinggalkan sendirian disini. Tak ada rasa kasihan sedikitpun. Mereka hanya mengejar keegoan masing-masing.

            Hanya memberikan penghidupan yang layak buatku. Tanpa kasih sayang dari mereka.

            Sebenarnya, mereka itu apa? Manusia atau bukan?

            Tak pernah sedikitpun mereka mempunyai waktu mengunjungiku disini. Hanya kesendirian dalam keheningan.

            Langkahku sudah sampai tepat di depan kampus UGM. Kampus yang sangat terkenal dengan pendidikannya. Akan tetapi, zaman sekarang juga terkenal dengan moral bejatnya. Maka dari itu mata para dosen sedikit jelalatan apalagi para mahasiswanya.

            Entah mereka sudah tertular virus darimana. Pasti dari Amerika sana. Sebuah negara yang dengan pelan-pelan merusak mental regenerasi bangsa Indonesia.

            Dengan pengaruhnya yang bisa menghipnotis jiwa mahasiswa disini.

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments