Monday, August 21, 2006
ORANG YANG BENCI DIRIKU ADALAH......,,,,

Orang yang benci gue adalah orang yang sebenarnya nggak tahu apapun tentang gue 100%.
kalo dilihat dari segi hati, mang gue nggak bisa dikategorikan cwek yang punya kebaikan. sebaliknya, gue sering jahat sama orang. sebenarnya, itu adlah kebalikannya aja. coz......

gue pengen banget nemu orang yang bisa ngerti gue seutuhnya, tapi sebelum itu harusnya, gue dulu yg harus mengerti orang tersebut.

jika ada yang benci gue, terima aja sih. karena gue pun banyak kekurangannya. biarpun  bisa ditutup dengan kelebihan gue yang rada menonjol.

orang yang benci gue adalah orang yang bodoh....
buat apa dia membenci gue, kao gue ngga membuatnya menangis, marah?

justru gue yang sering dibuat menangis, dan harusnya gue yang benci itu orang...

tapi ternyata, emang dari gue lah yang ga bisa membenci seseorang sejahat apapun orang itu, biar dia sudah nyakitin gue berkali-kali karena tertutup dengan cinta gue yang bisa memudarkan rasa benci gue ke dia.

buat roky lriusna alias jovan....gue tetep sayang ma lo, biar lo udah nolak gue. gue tahu alasan lo nolak gue. lo mau ikut angakatan laut, ngejar karir lo. tapi, moga yang gue tulis disini tentang lo gay moga2 ga benar.

karena gue yakin lo masih normal, sebatas gue tahu tentang lo.

orang yang benci gue adalah nando, dia benci gue karena suka boong sama dia. sebenarnya kalo diceritakan dari awal bukan gue yang salah. salah siapa juga, kenapa dia suka tidak menghargai dirinya sebagai seorang cowok.

benci boleh saja, tapi gue ga pernah ketemu sma dia lalu, gimana dia bisa benci gue....???????????aneh kan????????

orang yang benci gue adalah...udah ga ada tuh...yang lainnya sayang sama gue tuh...



Posted at 09:04 am by stroberi2beri
Make a comment  




Thursday, August 31, 2006
LoVeNa

Lovena JOanne

 

Sinopsis:

Joanne  adalah seorang cewek yang berusia sembilan belas tahun. Berkuliah di  Universitas Gadjah Mada. Joanne tinggal dengan saudara sepupunya di solo. Tapi, ngekost sewaktu kuliah di Yogyakarta. Setiap hari sabtu dan minggu dia pulang ke solo. Hidupnya berubah seketika saat dia tanpa sengaja bertemu dengan Randy, teman sekampusnya. Joanne merasa tertarik dengan Randy. Akan tetapi, dia sepertinya harus menahan rasa cintanya yang mendalam karena Randy ternyata  menunjukkan sikap acuh tak acuh padanya. Joanne hanya bisa menyembunyikan perasaannya dengan pura-pura membencinya. Karena hanya dengan cara itulah Joan merasa bisa lebih dekat dengan Randy.

Dan, ketika saatnya Joan memberanikan dirinya untuk mengungkapkan perasaannya pada Randy. Ternyata, Randy ditugaskan untuk kuliah di Surabaya. Kekecewaan terjadi pada diri Joanne. Karena..ternyata, apa yang Joanne perkirakan semuanya salah.

 

Karakter Tokoh:

1. Joanne          : Cerewet, usil dan suka jaim

2. Randy          :  Cuek, tapi suka menyimpan perasaan.

 

Latar belakang:

Kehidupan seorang cewek yang mencintai seseorang tapi, terlambat menyatakannya. Tak ada kata penyesalan.

 

Amanat:

Kalau suka langsung katakan saja. Tidak usah berpura-pura membenci, karena siapa tahu yang dibenci ternyata menganggapnya benar-benar benci. Maka, jadi cewek harus konsekuen dengan semua perkataannya.

 

***

BAB 1

 

Randy akan pergi minggu depan. Pergi ke Surabaya.

            Randy adalah seorang cowok berusia dua puluh empat tahun. Kuliah mengambil jurusan Desain Grafis komputer. Randy tergolong mahasiswa yang pintar. Dan nilai Ipnya diatas rata-rata tiga koma nol-nol. Dan dia termasuk cowok yang supel, banyak bergaul dan punya banyak teman.

Randy akan pergi dalam kurun waktu seratus enam puluh delapan jam dari sekarang.

            Randy itu gemar membaca buku. Setiap hari dia meminjam buku teman-temannya. Dia juga mempunyai musuh. Musuh Randy berjenis kelamin cewek. Bernama Joanne, usianya lima tahun dibawah Randy. Dia sangat manis. Bahkan Randy sering menyebutnya si hitam dan jelek. Maka dari itulah Randy dan Joanne saling bermusuhan.

Randy akan pergi dalam detik ke enam ratus empat ribu delapan ratus. Dan kepergiannya akan membuat hati Joanne menderita.

            Randy memandang Joanne penuh arti. Tidak…dia hanya menatap fotonya saja. Tidak lebih!

            Tapi, perkataan Joanne yang selalu mengisyaratkan kebencian membuatnya menjadi penuh keraguan.

Joanne adalah aku sendiri.

            Dan saat ini, aku menanti waktu kepergian Randy meninggalkanku.

Detik demi detik…..

Jam demi jam….

Hari demi hari….

Tahun demi tahun….

Sampai waktunya tiba aku mengatakan suka padanya.

Bukankah penantian itu lama sekali, padahal…..

            Aku tidak suka menanti. Dan juga aku merasa gengsi…karena aku cewek.

*

 

            “Berisik tahu!”seruku pada cowok itu. Baru saja masuk kelas baru. Tingkahnya sudah membuat seisi kelas menjadi seperti layaknya pasar Kempreyeng. Cowok itu memandangku. Lalu akhirnya terdiam membisu. Sebenarnya, siapa dia?kurasa aku akan tahu setelah daftar absen dibacakan oleh Dosen itu. Dan, sepertinya dia sudah mencuri perhatian pertamaku dikelas ini.

            Seorang lelaki bertubuh tegap masuk kedalam ruangan. Tingginya berkisar antara seratus tujuhpuluh sentimeter kubik. He..he..he…nggak pakai kubik. Dia meletakkan tasnya yang besar. Mungkinkah tasnya itu berisi beberapa bom. Berkhayal lagi.

            Pandangannya tertuju padaku. karena…..karena….karena…..

            Benar! Aku duduk tepat didepan dosen itu. Dia tersenyum padaku. akupun tersenyum padanya.

            He..he..he…he…

            “Manis, siapa namamu?”sapanya padaku. tapi, pastilah aku sedikit jaim. Sambil berdehem aku menoleh kesamping lalu kebelakang.

            “Siapa?saya?”tanyaku pura-pura tidak tahu.

            Busyet!aku dipanggil si manis? Memangnya aku ini seekor kucing? Yah…kulitku memang hitam. Bukan sih! Tapi, sawo matang. Dibandingkan dengan cowok peribut itu, aku tidak ada apa-apanya.

            “Iya, kamu mbak!memangnya disini yang hitam siapa selain kamu!”ujarnya mengejekku.

            Brengsek! Dosen ini mengolok-olokku. Nggak sopan!gerutuku.

            “Nama saya Joanne”sahutku kikuk.

            Aku cemberut. Dan, semua mahasiswa di kelas ini menertawaiku.

            Kurang ajar!awas kalian. Gertakku sambil menunduk malu. Tapi, sepintas aku melihat cowok peribut itu diam. Tidak ikut tertawa seperti yang lainnya.

            Benar-benar! Dia…

            Mencuri perhatianku.

            Disaat mereka semua mengejekku. Hanya dia yang diam membisu. Dan memandangku.

            Aku simpati.

*

 

 

            Pukul 10.00 wib

            “Sekarang, saya akan memanggil kalian, dan perkenalan pertama ini yang saya suka adalah cewek item yang namanya Joanne”ujarnya. Membuatku tambah malu. Malu luar biasa.

            “Astrid”panggil dosen itu.

            “Saya pak!”jawab cewek berbaju biru itu.

            “Aziz, B…C…D…E…F…G…H…I…Joanne….”panggil dosen itu lalu memberhentikan absennya.

            “Saya pak!”sahutku mengangkat tangan.

            Dosen itu tersenyum.

            Aku tersenyum kecut.

            “Kamu manis sekali, pasti nanti banyak semut mengerubungimu”ujarnya.

            Yah…memang, dimana ada gula disitu pasti ada semut.

            He..he…he…semut menyukaiku karena aku manis seperti gula.

            Tapi, semut apa dulu nih? Jangan-jangan semut daging. Waduh…gawat..bisa mampus aku!candaku dalam hati.

            Aku meringis sendiri. Dan tanpa sengaja aku melihat dia. Dia membalas senyumku. Waduh…hatiku..kebat-kebit.

            Akhirnya sampai juga pada absen dimana dia menjawabnya.

            “Randy!”panggilnya.

            “Saya pak!”aku menoleh seketika itu juga.

            Oh…namanya Randy…pantas keren. Cakep lagi.

            Randy…randy…

            Aku mencatatnya di kertas fileku.

            “Manis!”panggil dosen itu padaku.

            Aku menatapnya.”Iya pak!”sahutku. akhinya, sekarang aku refleks dipanggil dengan sebutan seperti itu.

            “Kamu dan Randy sepertinya cocok, manis dan putih. Seperti kopi sama susu”ejeknya lagi.

            Bulsyiet! Dosen ini menghinaku.

            Aku meringis. Lalu memandang cowok itu.

            Dia hanya terdiam membisu.

*

            “Hei, manis! namamu Joanne ya?dosen itu senang sama kamu ya? Dari tadi yang diperhatiin kamu terus”Ujar astrid menghiburku.

            Aku…sama sekali tidak merasa terhibur.

            “Ah, masa’ sih?sahutku tersenyum kecut.

            Astrid tertawa.”Ha..ha…benar joan, kita sobatan yuk!”ujarnya menyodorkan tangan persahabatan padaku.

            “Aku sih!senang-senang aja”sahutku.

            “Yuk, ke kantin?”pintanya

            Aku mengangguk setuju.”Ayo!”

            Dalam perjalanan menuju kantin. Aku berpapasan dengan cowok peribut itu. Seperti biasa dia bercanda dengan teman-temannya.

            Dan…dia menatapku.

            Disaat yang bersamaan aku mendengar celetukan mereka.

            “Manis, mau kemana?”celetuk mereka semua mengejekku.

            Tapi, cowok itu tidak ikut mengejekku. Tapi, dia terus menatapku.

            Simpatiku bertambah. Tapi…

            Seketika itu berubah Ilfeel. Karena…..ternyata tanpa kuduga dia mengejutkanku.

            “Kopi manis dicampur susu, kira-kira rasanya enak nggak ya?”ujar cowok yang bernama Ran….randy itu. Ikut-ikutan mengejekku.

            “Brengsek!kamu Ran!beraninya kamu ngejek aku?”seruku padanya. Datang menghampirinya. Lalu menamparnya seketika itu juga.

            Dia tertegun. Teman-temannya terhenyak melihatku.

            Astrid hanya melongo.

            “Kok, kamu maen tampar-tamparan gini?kenapa bukan dosen itu aja yang kamu tampar?!!”sahut randy marah.

            Aku terdiam. Menatapnya dalam-dalam.

            Lalu berlalu meninggalkannya. Berlari….

            Astrid mengejarku. Aku….aku….

            Di hari pertama kuliah ini, aku…sakit hati.

            Ditertawakan olehnya, padahal aku simpati padanya. Brengsek! Sok cakep tapi, bermuka dua.

            Tapi, benar juga perkataannya. Kenapa bukan dosen itu saja yang kutampar?kenapa harus dia? Tanyaku resah.

*

            Aku memandang kertas file itu. Tertulis beberapa coretan nama. Inisialnya”R”. r.a.n.d.y.Yup! Randy!

            Kuambil spidol orange dan kulingkari nama itu dan kuberi hiasan. Supaya terlihat lebih hidup.

            “Kurasa tadi siang, aku sudah keterlaluan padanya”ujarku bicara sendiri.

            Kupandang langit-langit kamarku.

            Ah…apa aku perlu minta maaf? Tanyaku dalam hati.

            (Tidak usah saja!kayak nggak punya harga diri. Suara hatiku mengadu.)

            Tapi….

            Sepertinya aku ada rasa padanya. Batinku.

            (Tidak!kamu benci padanya. Jangan terjebak emosi sesaat. Suara hatiku mengadu lagi.)

            “Tapi…dia sepertinya baik”ujarku lagi.

            (Tidak!kalau dia baik, kenapa tadi dia ikutan mengejekmu?berontak suara hatiku lagi.)

            Hiks…hiks…hiks…L

            Aku menangis.

            Kok, di hari pertama kuliah, aku sudah suka sama cowok sih!

            Cowok itu lagi. Bete…..

            Hiks…hiks…hiks….

*

            Randy menata bukunya. Malam ini dia belum pulang karena seharian dia berada di perpustakaan kampus. Hobi Randy adalah membaca. Dan setelah itu bermain internet,chating,browsing.

            Randy memasukkan beberapa disket ditasnya. Buku-buku pelajaran tentang desain grafis yang berjumlah sekitar lima buah. Benar-benar dia seorang kutu buku yang cakep.

            Beda….

            Bila dibandingkan dengan Joanne. Yang hobinya, ternyata cuma ngelamun saja.

            Randy keluar dari perpustakaan. Dihari pertama kuliah masih belum ada mata pelajaran yang diajarkan tetapi, Randy sudah semangat belajar.

            “Randy!”sapa temannya sambil menepuk bahunya dari belakang.

            Randy menoleh.

            “Apa?”sahutnya.

            “Kamu mau pulang?”

            Randy menangguk.”Ya, sudah tiga jam lebih aku di perpustakaan lalu ke internet sebentar”ujar randy.

            “Oh, udah makan belum?”Tanya teman randy.

            Randy menggeleng.”Belum?makanya perutku dari tadi keroncongan”

            “Kalo gitu aku traktir kamu ya?kebetulan dompetku lagi tebel-tebelnya”sahut temannya.

            Randy tersenyum.”Ok!”

            Mereka berlalu dari halaman kampus. Menuju warung.

*

            Randy menyantap makanannya dengan lahap. Benar sekali, dia kelihatan seperti manusia yang belum makan seharian. Biarpun cakep tapi, dia agak rakus juga.

            “Ran, gimana tadi rasanya ditampar sama si manis?”Tanya teman Randy.

            Randy terdiam. Memikirkan sesaat.

            “Andi, si manis itu memang benar-benar manis”sahut randy.

            “Kayaknya kamu suka sama cewek itu ya?”ujar Andi

            Randy terdiam.

            “Kenapa kamu nggak jawab?”sambung andi sambil menggodanya.

            Randy tetap diam.

            Rahasia…tetap rahasia. Biarpun bicara dengan sesama cowok. Tapi, dia agak sensitive dengan yang satu ini.

            “Kalau aku jadi kamu ran, aku bakal balas dia”ujar andi agak geram melihat kediaman Randy.

            “Sudahlah, cewek dimana-mana lemah. Kasihan”sahut randy.

*

            “Vica,aku pergi dulu ya!”pamitku padanya.

            “Ya!salam buat Randy”sahut teman kostku mengejek.

            Aku Joanne, umurku sembilan belas tahun. Kuliah di Universitas Gadjah Mada. Dan setiap hari senin sampai jum’at aku di kost-kosan. Tapi, setiap sabtu dan minggu aku pulang di rumah sepupuku di solo. Hidupku penuh penderitaan. Orang tuaku sudah bercerai. Mereka terlibat cekcok adu mulut. Karena itu sebabnya, aku benci dengan cowok.

            Papa sudah meninggalkanku selama tiga tahun ini. Mamaku juga pergi meninggalkanku sendiri menikah dengan pria lain. Ketahuan kalau sebenarnya siapa yang selingkuh duluan?

            Papa selingkuh..dan mama telah membalasnya.

            Sepertinya, dendam sudah dilaksanakan. Tapi…sekarang, siapa yang lebih menderita?

            Aku…

            Aku ditinggalkan sendirian disini. Tak ada rasa kasihan sedikitpun. Mereka hanya mengejar keegoan masing-masing.

            Hanya memberikan penghidupan yang layak buatku. Tanpa kasih sayang dari mereka.

            Sebenarnya, mereka itu apa? Manusia atau bukan?

            Tak pernah sedikitpun mereka mempunyai waktu mengunjungiku disini. Hanya kesendirian dalam keheningan.

            Langkahku sudah sampai tepat di depan kampus UGM. Kampus yang sangat terkenal dengan pendidikannya. Akan tetapi, zaman sekarang juga terkenal dengan moral bejatnya. Maka dari itu mata para dosen sedikit jelalatan apalagi para mahasiswanya.

            Entah mereka sudah tertular virus darimana. Pasti dari Amerika sana. Sebuah negara yang dengan pelan-pelan merusak mental regenerasi bangsa Indonesia.

            Dengan pengaruhnya yang bisa menghipnotis jiwa mahasiswa disini.


Posted at 04:48 pm by stroberi2beri
Make a comment  

LoVeNa

Aku berjalan melewati area parkir sepeda motor. Tiba-tiba tatapanku tertuju pada cowok itu. Randy. Dia juga melihatku. Mungkinkah, dia akan membalas dendam kemarin siang?

            Apa aku akan ditamparnya?

            Dia berjalan menghampiriku.

            Lalu dia menatapku dalam-dalam. Tatapannya mengisyaratkan sesuatu.

            Tapi, aku tetaplah aku.

            Aku pintar menyembunyikan perasaanku sebenarnya. Berkelit dengan kebencian.

            "Apa lihat-lihat? Pake mata lagi?!"bentakku padanya.

            "Heh, si manis. Kamu itu salah, kenapa lewat area parkir? Kamu ngelamun ya?!"ujarnya meledekku.

            Aku tidak terima."Biar lewat parkir, disini lebih dekat dari kelas tahu!sok ngerti kamu!"sahutku dongkol.

            "Minggir!aku mau lewat, ini bukan jalannya bapakmu tahu!"sahutnya membalasku dengan kejam.

            "Apa? Kau menghina papaku?"ujarku padanya menghampirinya.

            Dia berhenti berjalan dan menoleh padaku.

            "Kenapa?"sahutnya lalu pergi meninggalkanku.

            "Brengsek!cowok sialan!"seruku membalas ejekannya.

            Tapi, dia berlalu dengan santai. Padahal hatiku masih kebat-kebit tak karuan.

*

            Tatapanku yang tajam tidak lepas-lepas darinya. Dia duduk tepat disebelahku. Kenapa dia bisa duduk di sini? Enak aja.gerutuku dalam hati.

            Tapi, dia malah tersenyum sinis.

            Gila nih cowok!pikirku.

            "Pinjam bukumu?"pintanya padaku lalu mengambil bukuku dengan kasar.

            "Kau lancang kuyak, kembalikan!"sahutku

            "Apa?kau bilang?"sahutnya marah.

            "Brengsek!"hinaku padanya lalu membuang muka.

            Dasar cowok tidak punya perasaan.

            Kami berdua terdiam. Suasana menjadi hening……….

            Gimana aku bisa suka sama tipe cowok macam dia sih? Tanyaku dalam hati.

            (Bisa saja, karena hati tak pernah bohong kok!) Sahut suara hatiku mengadu.

            Tapi, dia nyebelin!

            (Itu kebalikannya. Ujar suara hatiku lagi.)

            Sok tahu kamu.

            (Ya udah kalau nggak percaya.)

            Tiba-tiba lamunanku buyar seketika. Saat dosen itu mengabsenku.

            "Joanne…joanne"panggil dosen itu.

            "E…saya pak!"sahutku sedikit gugup.

            "Kenapa tidak dijawab-jawab?"tanyanya.

            Aku hanya bisa meringis seperti orang bego.

            Aku menatap Randy. Tapi, dia tetap dingin seperti es.

            Maksud hati tak bisa ditebak.

 

            Akhirnya, dosen itu selesai mengabsen dan kuliah telah usai. Sekarang ada pertemuan dengan semua mahasiswa tentang acara week camp di Kaliurang minggu depan.

            Aku dan Astrid bergegas menuju ruangan itu. Dan lagi-lagi pandanganku tertuju pada Randy. Si Cowok peribut kelas.

            Saat dia membalas tatapanku. Aku membuang muka.

            Pikirnya, aku adalah cewek yang sombong.

            Terlihat beberapa ketua HIMA dan anggotanya masuk dengan membawa beberapa kertas. Lalu berdiri dan memulai acara.

            "Yah, sekarang saya akan membagi anggota dari kelas A sampai E"ujarnya menerangkan dengan tegas.

            Lalu mereka membagikan kertas pada kami semua. Satu persatu.

            Daftar pembagian kelompok.

            Aku membacanya satu persatu.

            "Hahh?"seruku terkejut.

            Astrid penasaran. "Ada apa Jo?"tanyannya.

            Aku tak bisa berkata-kata.

            "Aku kelas E, kamu?"tanyaku

            Astrid memandangku lalu membaca lagi.

            "Maaf, kita nggak bisa sama-sama jo, aku kelas B"sahutnya sedih.

            Aku hanya bisa terdiam. Karena, ternyata aku sekelompok dengan Randy.

            Habis sudah. Habis…..

            "Ya, kalau sudah silahkan berkumpul dengan kelompoknya masing-masing"seru Ketua HIMA.

            Apa? Kumpul? Tidak!

            Aku hanya bisa diam tak beranjak sedikitpun.

            Astrid sudah mencari kelompoknya sendiri.

            Dan aku ditinggal sendirian. Kayak orang bego yang kehilangan induknya.

            Tiba-tiba aku ditabrak oleh seseorang dari belakang.

            "Ra..randy, kok kamu maen tabrak-tabrakan gitu sih?"kataku padanya sambil marah.

            Aku menggerutu.

            "Mana kelompokmu?sudah ketemu?"tanyanya padaku.

            Gimana aku bisa jawab? Orang kita sama kelompoknya.

            "Randy, hei kita disini woi!"seru Cowok itu melambaikan tangannya. Memanggil Randy.

            Randy tersenyum dan menghampirinya.

            Aku dicuekin gitu aja.

            Terpaksa dengan langkah pelan-pelan aku berjalan mengikutinya.

            Tubuhnya tegap. Tinggi sekitar seratus tujuh puluhan lebih. Dan rambutnya lurus rapi. Kulitnya putih dan…dia

            Dia telah berhasil menarik perhatianku.

            Tapi, dia tidak akan tahu maksud hatiku.

            Dibelakangku ada rasa cinta…

            Tapi, jika di depannya ada rasa benci.

            Kira-kira apa kalian bisa menebaknya?

            Kurasa pasti bisa bukan?

            Aku tersenyum sendiri. Jika kalian menebak ini rasa gengsi, jawabannya benar seratus persen. Gimana nggak? Kalau dia tahu aku suka padanya bisa malu. Terus mau dikemanakan mukaku ini. Iya kalau kulitku setebal kulit badak.

            "Semua sudah berkumpul dengan anggotanya?"Tanya ketua HIMA.

            Lalu, aku dipanggil oleh ketua itu.

            "Mbak, kamu kok masih sendirian?mana kelompokmu?"tanyanya.

            "Su..sudah kok!"sahutku langsung mengambil tempat di belakang Randy.

            Dia menoleh kearahku. Aku terlihat gugup.

            Mati aku. Apa dia melihat kalau kakiku gemetaran?

            Aku menggoyang-goyangkan kakiku. Supaya dia tidak memperhatikanku.

            Dan sepintas aku melihatnya tersenyum padaku.

            Aku membalas senyumnya. He..he..he…he..he…

            Lalu dia berbalik ke depan.

*

            Aku mengambil spidolku dan mengambil map fileku. Ditengah-tengah kertas itu aku selalu menulis catatan harianku. Tak ada yang tahu selain aku sendiri.

            Aku mulai menulis.

            September      

            Hari ini rasanya hatiku dag..dig..dug. gmn nggak, besok aku akan camping bersamanya. Bersama Randy..r..a..n..d..y..he..he..he..

 

            Aku menutup map fileku lalu mengambil hanphoneku. Dan mulai mengsms mama dan papa. Seperti biasa jika kantongku sudah mulai tipis.

            To: mama

            Ma, jo bsk mau camp.

Uang jo hbs. Bsk krim ya.bls.

Send…delivered.

            Yups! Pasti mama besok lansung transfer tuh uang!

            Sekarang, sms papa….

            To: papa

            Pa, jo bsk mau camp.

Uang jo hbs. Bsk krim ya.bls.

Send…delivered.

            Akhirnya, besok aku dapat uang dobel nih! Biar aja, aku suka morotin mereka. Salah mereka sendiri kenapa ninggalin anaknya sendirian disini. Biar mereka susah.

            Hatiku berbunga-bunga. Persiapan camp besok malam. Aku dan randy akan bersama selama tiga hari di kaliurang.

            Cinta oh…cinta deritanya tiada akhir….seperti puisi yang selalu dilantunkan oleh Ti pat kai. Sampai menjalani seribu macam penderitaan karena cinta. Jika cinta bisa mengalahkan benci. Maka adakalanya seorang yang sangat membenci orang itu berubah menjadi cinta. Dan ada pula sebaliknya, ada orang yang saling mencintai pasangannya. Tiba-tiba berubah menjadi kebencian.

            Seperti yang kualami. Papa dan mamaku dulu saling mencintai tapi, akhirnya saling membenci.

            Jadi, demi kebaikanku. Aku punya cara sendiri mencintai seseorang.

            Dengan membencinya.

*

            Astrid kebingungan membawa perlengkapan campnya. Padahal Cuma tiga hari, tapi bawaannya seperti para TKI yang akan berimigrasi ke Malaysia. Banyak sekali! He..he..he…

            Kalau aku, cukup membawa dua baju saja. Satu celana dan makanan. Juga uang. Pokoknya, kalau bawa uang semua bisa dibeli deh!J

            "Jo, bantuin aku dong!berat nih!"pinta Astrid padaku.

            Aku meringis.

            "Kamu juga sih, emang bawa apaan?"tanyaku padanya.

            Astrid menggendong tasnya. Dengan penuh beban.

            Lucu….lucu sekali.

            "Mamaku cemas banget ama aku, tahu nggak kalau aku dibawain baju banyak, makanan super jumbo deh!"ujarnya

            Wow..!masih enak kamu ada yang nyiapin. Sedang aku? Tidak ada satupun dari mereka yang membantu menyiapkan peralatan campku.

            "Enak ya!"sahutku padanya.

            Astrid memberhentikan langkahnya lalu, duduk. Dia tidak kuat lagi mengangkat beban yang begitu berat.

            "Sudah…sudah, bekalku aku kasih ke kamu aja deh!"ujar astrid kepayahan.

            "Ah, yang bener nih!mau dong makanan buatan mamamu"sahutku girang.

            Astrid mengeluarkan semua isi tasnya.

            Ck….ck…ck….bener-bener bejibun.

            (Astrid kamu mau minggat ya?)

            Pandanganku beralih ke semua sudut ruangan. Dimana dia ya? Apa dia tidak ikut camp?tanyaku dalam hati. Penasaran.

            Ah….kalau dia tidak ikut, hatiku yang kebat-kebit nggak ada lagi.

            "Ya, semuanya kumpul dengan kelompoknya masing-masing"seru panitia itu.

            Astrid kebingungan. Barang-barang yang dikeluarkannya tadi, sekarang dimasukkan ketasnya lagi. Sepertinya, tasnya tidak muat.

            Dan, Astrid diketawain oleh semua teman-temannya.

            Aku tak tinggal diam."Heh, ngapain ketawa? Ada yang lucu ya?!"bentakku ke mereka.

            Dan mereka terdiam. Belum tahu siapa Joanne!

            (Joanne kan sebenarnya penakut!ce..i..lee)

            Setelah membantu astrid mengemasi isi tasnya. Dia lalu pergi meninggalkanku untuk berkumpul dengan kelompoknya. Yah…jangan pergi dong astrid. Aku merasa kikuk menuju kelompokku. Kenapa? Karena yang berjenis kelamin cewek cuma aku. Ha..ha..ha…(ironis memang) kenapa cuma aku?

            Karena, aku masuk dalam daftar sisa-sisa. Kelas E….hualah….kelas paling buncrit. Makanya, aku nggak suka sama kelompok ini. Ada sukanya, ada nggaknya. Sukanya, aku bisa ngelihat mukanya si Randy. Nggaknya, so pasti semuanya dijagain ke aku. Tapi, biar pun kelompokku banyak cowoknya. Yang ini penting. Pastilah tendaku khusus para wanita.Cuma kelompoknya aja yang beda. He..he..he..sempat stress dengan yang satu ini. Aku pikir bakalan sama mereka. Memangnya, aku ini stupid apa? Candaku dalam hati.

*

 

            Sudah dua jam aku menanti kedatangan cowok itu. Batang hidungnya tidak kelihatan sama sekali. Kemana perginya dia ya? Tanyaku dalam hati.

            Gelisah menanti.

            Berkali-kali aku ditanyai oleh panitia. Tapi, aku harus jawab apa? Siapa yang tahu keberadaannya dimana? Apa dia lupa kalau hari ini camp di kaliurang?

            Terdengar suara orang berlari-lari menuju ruangan. Aku menoleh kebelakang. Mungkinkah itu Randy?

            Tidak…..

            Bukan dirinya. Melainkan salah satu temannya yang juga sekelompok denganku.

            Dia menghampiri panitia. Meminta maaf atas keterlambatannya. Lalu beralih menuju grup kami.

            Aku kecewa. Tak menggubris sapaannya.

            Tapi, dengan segala keberanianku, akhirnya aku bertanya padanya.

            "Dimana Randy?"tanyaku padanya penasaran.

            Dia terdiam.

            "Randy, batal ikut camp"ujarnya

            Aku terkejut setengah mati. Mungkin, benar-benar mati.

            "Apa?kenapa?"tanyaku semakin penasaran.

            "Entah, katanya ada sesuatu yang penting yang harus dikerjakannya"ujarnya menjelaskan.

            "Lebih penting dari ini?"tanyaku

            Dia mengangguk.

            "Sekarang, dia kemana?"tanyaku ingin tahu lebih jelas.

            "Di kampus ini, tepatnya dia sekarang di Internet"jawabnya menjelaskan semuanya.

            Aku langsung mengambil tasku dan pergi meninggalkan ruangan. Tak kugubris panitia itu memanggilku. Aku tidak bisa pergi jika Randy tidak ikut.

            Segera aku berlari menuju Warnet. Aku mencarinya. Tapi….dia sudah tidak ada. Aku mencari kemana lagi? Apa dia berbohong?

            Kurang ajar sekali kalau sampai dia bohong padaku. Joanne bisa-bisanya ditipu mentah-mentah. Gerutuku.


Posted at 04:53 pm by stroberi2beri
Make a comment  

LoVeNa

Apa mungkin dia sekarang ada di ruangan bersama temannya itu. Jika aku kembali. Mukaku ditaruh dimana?

            Malu…………

            “Hei Andi, sorry aku telat!”seru Randy tiba-tiba berada di belakang Andi. Andi hanya senyum-senyum sendiri.

            Randy merasa curiga. Dia tidak melihat satu-satunya cewek di grupnya.

            “Andi, Si manis mana?”Tanya Randy

            Andi diam saja. Lalu bicara.

            “Dia sudah pergi”jawabnya

            “Kemana?memang dia nggak ikut?”Tanya Randy

            Andi menggeleng.

            “Gila, padahal lima belas menit lagi berangkat!”sahut randy cemas.

            Randy terdiam. Lalu pergi meninggalkan temannya itu. Andi hanya bisa tertawa sendiri.

            Batin Andi. Ck..ck..ck..ternyata mereka sudah saling jatuh cinta.

*

            Aku duduk melamun sendirian. Sebaiknya, aku meninggalkan kampus ini saja. Lebih baik pulang ke solo saja. Daripada aku kembali kesana mendapatkan malu. Pergi saja. Aku beranjak keluar menuju pintu gerbang. Dengan langkah yang sangat lambat. Seperti orang yang enggan berjalan. Sebentar-sebentar berhenti. Lalu jalan lagi.

            Kebingungan….

            Pintu gerbang sudah kulewati. Yups! Pulang saja deh! Akhirnya, aku berinisiatif pulang ke solo saja. Kuberhentikan angkutan umum itu. Lalu berlanjut naik bis kota ke arah solo. Tidak begitu jauh kan?pikirku.

            Aku mengambil kursi paling belakang. Karena memang tinggal satu. Gelisah hatiku memikirkan Randy. Jika saja tadi aku tidak keluar mencarinya. Akan lain cerita.

            Tanpa sengaja aku menoleh kebelakang. Melihat ke jendela. Iya..aku melihat Randy keluar di pintu gerbang. Itu dia!pikirku. Keluar atau tidak ya! Tapi, rasa gengsiku sangat besar. Jika aku turun menemuinya, pasti dia bakal gede rasa.

            Dan dia akan menertawakanku.

            Tatapanku ternyata diterima olehnya. Dia melihatku. Aduh…segera saja aku membuang mukaku jauh-jauh. Menatap depan.

            Tapi, sepertinya aku mendengar dia memanggilku.

            “Joanne”panggilnya. Tapi, aku tak menggubrisnya. Tapi….tapi…hatiku berlawanan. Aku memberhentikan laju angkutan ini.

            “Stop pak!”seruku lalu beranjak turun dan membayar ongkosnya.

            Tapi, aku tidak berani menatap kebelakang.

            Sampai akhirnya, menoleh juga padanya. Dia menghampiriku. Napasnya sesak. Karena tadi, dia mengejarku.

            Sedikit gede rasa. Aku tersenyum padanya.

            “Kenapa kamu pergi?”tanyanya. Ingin sekali aku menjawab, karena aku mencarimu. Gumamku.

            “A…aku, tadi mamaku telpon, ada urusan penting. Tapi sepertinya tidak jadi”sahutku seperti biasa berkelit. Membohonginya.

            “Terus?”sambungnya lagi.

            “Ya terus aku kembali lagi”jawabku ketus.

            “Oh…”

            He…he..he..benar-benar GEER.

            Tiba-tiba aku melihat bis untuk ke kaliurang sudah berangkat satu persatu. Dan mereka semua sudah pergi meninggalkanku berdua dengan Randy.

            “Randy..randy, bisnya sudah berangkat,kita ditinggal”seruku sambil mengejar laju bis itu.

            “Woi…teman-teman, aku disini!”teriak Randy.

            Tapi….bisnya sudah tak kelihatan lagi. Semakin dikejar semakin menjauh. Terus, apa yang akan kulakukan? Tanyaku.

            Kami berdua terdiam dalam keheningan.

            Sekarang sudah pukul sembilan malam. Ah…aku menatap Randy. Dan dia menatapku juga. Mata kami beradu pandang. Tampak kemerah-merahan dari wajahnya. Sepertinya rona mukaku juga berubah. Aku malu sekali.

            Randy tersenyum. Sesaat kemudian dia tertawa terbahak-bahak.

            “Kenapa kamu?”tanyaku gusar.

            Tapi dia tetap tertawa. Memang, apanya yang lucu?

            “Dasar sapi kamu!”ejekku padanya.

            “Ya kamu! Keledai, tulalit alias telat mikir!”jawabnya.

            “Eh…ya kamu yang bego, sudah tahu aku pergi ngapain nyusul?” tanyaku.

            Dia terdiam. Menatapku. Lalu melangkah pergi.

            “Hei, kamu kemana?”tanyaku mengejarnya.

            “Pulang ke kos-kosan!”sahutnya.

            Apa? Pulang? Yah…tidak ada hari indah berdua dengannya. Gerutuku.

            Aku melihatnya sudah jauh dariku. Jauh…jauh…sekali.

            Tapi, dia dekat di hatiku.

*

            “Ma, kenapa mama nggak datang menjenguk papa?”pintaku padanya. Wanita itu usianya sudah menginjak empat puluh lima tahun. Kerutan diwajahnya semakin lama semakin terlihat. Rambutnya lurus sebahu dan berkulit putih. Kok, beda denganku ya? Mungkinkah aku bukan anaknya?tanyaku.

            Tidak mungkin, karena aku terkena gen dari papaku. Jadi kulitku coklat.

            Dia memelukku. Kemudian menangis tersedu.

            “Mama tidak sanggup sayang?”sahutnya sambil terisak-isak.

            “Ma, papa sakit. Tidak ada yang merawat papa sekarang”jawabku.

            Dia terdiam.

            “Joanne, mama dan papa sudah tidak ada hubungan lagi”ujarnya

            Aku menangis. Air mataku mengalir deras tiada henti.

            “Ja..jadi, mama nggak perduli kalau papa sampai mati?”ujarku terisak-isak.

            Mama kembali memelukku.

            “Tidak sayang, jangan berkata seperti itu, sekarang kamulah yang bisa menolongnya”jawabnya tegas.

            “Nggak, aku benci mama!aku nggak mau nemuin mama lagi, aku benci!”teriakku lalu meninggalkannya di rumah itu. Bukan rumahku, melainkan rumah suaminya yang baru.

            Sebenarnya, mama meninggalkan papa karena memang dulu papa selingkuh dengan wanita lain. Tapi, apakah satu kesalahan harus dibalas dengan kesalahan juga?tanyaku dalam hati.

            Tidak bukan? Semuanya seolah pergi dariku. Sekarang, yang menemani papa adalah selingkuhannya itu. Jika tiba-tiba datang ke rumah papa. Selalu yang kulihat dia. Makanya aku meminta mama supaya menjenguknya. Biar wanita jalang itu tak berani mengganggu papa lagi.

            Tangisanku tak berarti buat mama. Tak berarti sama sekali. Walaupun aku memohon dan menyembah sujud padanya. Tak ada gunanya. Mereka egois.

            Aku hanyalah anak satu-satunya. Tak ada yang memberiku kasih sayang. Disaat aku sangat membutuhkan mereka. Tapi, mereka hanya menuruti keinginannya sendiri.

            Tak penting…biar aku mati juga tak ada yang menangisiku.

            Tak ada satupun. Buat apa aku dilahirkan di dunia ini? Buat apa?

            Jika mereka tidak menginginkanku berada disisinya.

*

            Aku dan Randy dipanggil oleh ketua HIMA. Karena tidak mengikuti acara Camp. Kami berdua hanya terdiam. Tak berani bicara sedikitpun. Mereka semua berkumpul menginterogasiku dan randy. Tapi, kelihatannya Randy santai-santai saja. Tidak gentar sedikit pun.

            “Kalian, kemana?”Tanya ketua HIMA

            Aku merasa gugup sekali. Gemetaran.

            “Sa…saya, tiba-tiba ada urusan, ayah saya mendadak sakit parah”sahutku padanya. Memang benar, papaku sedang sakit.

            Tiba-tiba Ketua HIMA menggebrak meja.

            “Kamu tahu apa hukumannya?”ujarnya menakutiku.

            Aku menggeleng tidak tahu.

            “Kamu bakal tidak diluluskan”ujarnya membuatku semakin ketakutan.

            Lalu dia mulai menanyai Randy. Aku ingin tahu reaksinya.

            “Lalu kamu!kemana?”bentaknya. sedikit beda denganku. Mungkin karena aku cewek.

            “Acara itu sama sekali nggak penting”sahutnya mengejutkan mereka. Begitu juga aku.

            “Apa katamu?”

            “Maaf saya banyak tugas penting, lebih penting dari ini, oh ya kenapa kamu mengancamnya? Kamu tahu kalau aku ini anak dari salah satu rector disini”ujarnya.

            Apa? Anaknya rector?

            “Benarkah?siapa?”Tanya Ketua HIMA itu sedikit kikuk.

            “Nggak perlu tahu!”sahutnya santai lalu meninggalkan mereka dan aku sendirian.

            “Ran..randy, tunggu aku!”seruku padanya.

            Sepertinya, randy benar-benar hebat. Dia berbohong untuk menakuti mereka semuanya. Wow…simpatiku bertambah lagi satu poin.

*

            Aku terkesima olehnya. Dia sudah membelaku habis-habisan. Ce..i..le…katanya benci, kok jadi seperti ini?

            “Ran..randy, makasih ya tadi kamu su..”ujarku padanya. Tapi sudah diputus olehnya.

            “Halah…sudahlah, nggak usah basa-basi pake trima kasih segala”sahutnya memotong pembicaraanku.

            Kok, tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat.

            Tadi baik lalu berubah kejam. Gimana sih?

            “Aku nggak bermaksud untuk…”ujarku lagi.

            Tapi dia tetap cuek. Benci aku tipe cowok kayak gini. Benar-benar bikin aku bete abis. Bisa dibayangkan gimana kalau nanti aku jadi ceweknya. Pasti yang terjadi hanyalah pertengkaran-pertengkaran. Tapi, ini kan sudah menjadi bagian dari janjiku. Bahwa, lebih baik membenci dulu daripada mencintai. Karena benci bisa jadi cinta.

            Aku membolak-balik halaman fileku. Lalu astrid memanggilku.

            “Jo, anterin aku ke kamar mandi dong!”pintanya padaku.

            “Berangkat sendiri deh, lagi males nih!”sahutku.

            Astrid menghampiriku.

            “Ayolah jo, aku takut sendirian”ujarnya lagi memaksa.

            Mau tak mau aku harus menemaninya.

            “Ok deh!”sahutku lalu meninggalkan kelas.

            Aku tak tahu bahwa map fileku belum kututup. Dan kejadian yang tak akan kulupakan akan terjadi pada hari ini dengan Randy.

*

            Randy masuk lalu mengambil tempat duduk di sebelah Joanne. Dua bangku sebelumnya. Lalu dia melihat map file Joanne terbuka. Randy ingin mengetahui catatan pelajaran Joanne yang belum sempat dia tulis. Dibukanya satu persatu. Dan tepat di halaman paling tengah. Dia membacanya. Kemudian tertegun sebentar. Dia sempat menutup kembali map Joanne. Tak berani membukanya. Tapi, hatinya berlawanan. Dibukanya kembali map file itu. Dan kemudian dibacanya.

            September,

            Wah…seneng skali aq bisa kenal sm randy…r.a.n.d.y…rasanya gmn? Gitu. Biar aq jahat sama dia tp sebenarnya aq suka..

            Hah? Joanne naksir aku? Pikir randy. Dia kegeeran abiz. Tapi, belum sempat dia habis membacanya. Tiba-tiba Joanne sudah berada di depannya. Randy terkejut seketika. Jantungnya berdetak kencang. Sedikit menahan senang dan malu.

            Raut muka Joanne menatapnya seakan seperti mau menelannya hidup-hidup. Membuatnya tidak bisa berkutik sedetikpun. Dia hanya memikirkan apa yang akan dikatakannya pada Joanne. Sebuah alasan. Pikir randy cemas

            Tapi….

            Rona muka Joanne mengisyaratkan kebencian.pikir randy

            “Ngapain kamu disini?”bentakku.

            “Aku…tadi mau pinjam bukumu”sahut Randy gugup.

            “Bukuku? Terus ngapain kamu lihat sampai jauh?”sambungku lagi.

            Sebenarnya, aku takut..apakah dia sudah membaca catatan kecilku itu.

            “Nggak kok!”ujarnya

            “Aku ngeliat pake mata kepalaku sendiri, kalau kamu baca halaman itu kan?”ujarku spontan menjambak rambutnya..

            “Nggak!sumpah!”jawab randy ketakutan.

            “Kamu baca kan?kamu baca kan?”bentakku padanya. Aku sepertinya kesetanan. Gimana nggak, sebenarnya aku malu setengah mati. Malah mungkin benar-benar mati.

            Dan, mulai detik ini aku begitu membencinya sampai aku menyadari bahwa aku memang sangat mencintainya.

            Tapi, aku tidak tahu bahwa sebenarnya dia menganggapku benar-benar benci padanya. Sampai akhirnya, aku dan dia tak saling bertegur sapa.

            Sampai akhirnya, dia….

            Dia…salah mengerti.

*

BAB 2

 

6 bulan kemudian…..

 

            Wah…hari ini adalah hari pertama dimana aku akan mengetahui hasil semester awalku. Ipku kira-kira bagus tidak ya? Pikirku gelisah.

            Aku berdiri mengantri panggilan. Dan tiba-tiba astrid memanggilku dari jauh. Dia berlari-lari, sepertinya ada yang penting.

            “Hei Jo, kesini sebentar!”teriak astrid padaku.

            Aku keluar dari barisan dan menghampirinya.

            “Ada apa?”tanyaku padanya.

            Dia menarik napas dalam-dalam. Membuatku sedikit penasaran.

            “Jo, aku beritahu kamu sesuatu. Tapi, janji jangan terkejut?”ujarnya.

            Aku mengernyitkan alis. Tak mengerti.

            “Iya, apa?”tanyaku.

            Astrid terdiam sesaat. Lalu melanjutkan kembali.

            “Jo, kamu jangan sedih ya, si Randy nilainya tertinggi dari seluruh mahasiswa kelas kita”ujarnya mengejutkanku.

            Tak percaya….benarkah? pandai sekali dia?

            “Terus?apa yang membuat sedih?”tanyaku. Bukankah itu hal yang menggembirakan?

            Astrid kembali terdiam sejenak. Dan menatapku dalam-dalam.

            “Jo, randy dipindahkan di Surabaya selama dua tahun”ujarnya menjelaskan.


Posted at 05:35 pm by stroberi2beri
Make a comment  

LoVeNa

Aku terkejut. Sepertinya aku baru saja mendapat hantaman yang keras di hatiku. Tidak…randy akan dipindahkan di Surabaya. Apakah itu sebabnya dia jarang sekali kelihatan di kampus? Mempersiapkan diri pergi dari kampus ini?

            “Terus kenapa memangnya?”tanyaku ke astrid berkelit. Pura-pura tidak merasa sedih.

            “Jo, kamu kan suka sama dia?”sahut astrid.

            “Nggak, aku sama sekali tidak menyukainya”kataku ketus padanya.

            Tapi, astrid melihatku dan menatapku dalam-dalam. Apakah dia melihat kalau mataku berkaca-kaca. Dan bibirku bergetar.

            Aku tak sanggup lagi. Dan…dan…

            Dan..aku menangis…menangis.

            “Sudahlah jo, jangan pura-pura lagi. Sekarang kau cari dia dan segera minta maaf padanya biar kamu lega”pintanya padaku. aku terhenyak.

            Tidak…itu bukan aku. Aku tak akan mau menyerah begitu saja hanya karena dia pergi. Disini, banyak cowok-cowok cakep. Bukan Cuma dia aja yang bisa menarik perhatianku.

            Aku menggeleng.”Tidak, aku tak mau minta maaf. Titik!”sahutku tegas lalu meninggalkan astrid duduk sendirian. Aku kembali mengambil antrian.

            Randy akan pergi meninggalkanku sendiri….

            Kenangan itu….

            Hanya tinggal kenangan….

*

            Aku duduk termenung di kelas. Mengisi jadwal kuliah baru untuk semester depan. Sedikit tak ada semangat lagi. Randy sudah pergi jauh. Tak kelihatan lagi batang hidungnya. Buku yang dia pinjam saat itu sudah dikembalikannya padaku. tapi, melalui temannya yang bernama Andi.

            Andi berkata padaku bahwa randy meminta maaf jika ada kesalahan padaku selama ini. Menitip maaf? Tidak gentle. Itu bukan laki-laki melainkan banci.

            Aku sama sekali tak menanyakan nomor telepon padanya. Sebenarnya, kenapa aku tidak basa-basi saja padanya. pura-pura Tanya apa gitu, atau mungkin mengajaknya makan bersama untuk yang terakhir kalinya? He..he..he…itu adalah pikiran aneh yang aku punya selama ini.

            Walaupun sangat ingin, tapi…aku tidak bisa melanggar prinsipku.

            Benci ya benci, cinta ya cinta….titik tak ada koma lagi.

            Tapi, kata orang benci itu singkatan dari”Benar-benar cinta”.

            Apa itu benar? Sebenarnya apa makna sesungguhnya dari benci?

            Ah….membuatku pusing saja. Aku seperti menjadi Ti pat kai, yang suka berkhayal akan cinta sejati yang tak pernah mati.

            Aku membaca bukuku yang pernah dia pinjam. Biasanya, kata temanku. kalau cowok pinjam buku ke cewek. Saat mengembalikannya. Pasti dia meninggalkan pesan di tengah-tengah buku itu. Atau sekedar tulisan.

            Aku berinisiatif untuk mencarinya. Satu persatu. Lembar demi lembar aku buka pelan-pelan.

            Kira-kira dimana dia meletakkannya? Pikirku gelisah.

            Astrid mengagetkanku tiba-tiba.

            “Hei, lagi ngapain?”tanyanya.

            “Aduh, kamu ini ganggu aku aja deh!”jawabku marah.

            “Sorry-sorry, habis kamu serius amat sih!”ujarnya

            Aku kembali membuka buku itu. Tak kutemukan satupun lembaran itu.

            “Kau mencari apa?”tanyanya.

            “Nggak perlu tahu!”sahutku ketus. Ah..kok tidak ada sama sekali.

            Akhirnya, aku menutup buku itu lalu kumasukan ke dalam tas.

            Payah…ternyata tidak ada. Kira-kira di buku yang mana ya? Dia kan sering pinjam bukuku. Setelah tragedi itu dia tak berani bicara padaku. tapi, dia baru bicara saat ada keperluan. Yah…seperti pinjam buku itu.

            Aku kecewa. Astrid hanya melongo.

*

            Sudah seminggu ini randy meninggalkan kota Yogya yang tercinta menyimpan berbagai kenangan lucu, buruk dan aneh. Randy mengingat kejadian saat dimana dia dan Joanne ketinggalan bis. Berlari-lari bersama.

            Randy tersenyum.

            Lalu mengingat kembali saat Joanne pertama kali dipanggil si manis oleh dosen. Dan dia sudah ditampar oleh Joanne gara-gara mencoba ikut-ikutan mengejeknya.

            Dasar si hitam, cerewet, banyak omong, banyak tingkah, suka bohong dan pemarah.

            Randy tersenyum bahagia. Tapi….seketika berubah.

            Dia mengingat saat dimana Joanne menjambak rambutnya, gara-gara membaca catatan kecil itu. Sebenarnya, kenapa dia marah? Pikir randy.

            Di catatan itu tertulis, bahwa dia menyukaiku. Gelisahnya.

            Terus, kenapa dia sangat membenciku? Tanya dia gusar.

            Sebenarnya, dia menyukaiku ataukah membenciku?

            Itu adalah pikiran randy. Benak randy sampai saat ini. Dan dia juga ragu untuk menanyakan hal itu pada Joanne. Kertas kecil yang dia selipkan di salah satu buku Joanne yang dia pinjam. Akankah Joanne sadar kalau dirinya meninggalkan alamat email padanya.

            Randy tak berani bertanya pada Joanne. Setelah kejadian itu, randy bungkam seribu bahasa.

            Hanya buku itulah yang bisa mengajaknya berbicara.

            Joanne, semoga kau menemukannya. Aku ingin berhubungan lebih dekat denganmu. Benak randy dalam hati.

*

            Aku pulang ke rumah sepupuku di solo. Saat ini aku ingin ditemani oleh kakak sepupuku yang bernama Dhevy. Dia berusia tiga tahun diatasku. Aku sudah menganggapnya sebagai kakakku sendiri.

            “Kak dhevy, ada waktu sebentar nggak?”tanyaku padanya. dia sedang asyik menonton televisi. Kak dheavy itu cantik, dan supel. Dan enak diajak buat curhat.

            Dia tersenyum. Dan memintaku duduk disampingnya.

            “Kak, tvnya matikan dulu dong!”pintaku padanya.

            “Ok!”sahutnya langsung mematikan tv itu.

            “Ada apa dek?”tanyanya menatapku.

            “Kak, aku bingung nih!”ujarku padanya.

            “Cerita deh!kak dhe dengerin deh!”sahutnya. “Sebentar”sambungnya. Dia mengambil camilan di sebelahnya. Seperti biasa,jika dheavy diajak curhat pasti dia mendengarkan sambil nyemil.

            “Sekarang, lanjutin”ucapnya sambil kriuk…kriuk…kriuk.

            Aku mengambil napas panjang. Sebelum memulai ceritaku.

            “Kak, aku suka sama cowok”

            “Hah? Bener nih?siapa?”tanyanya

            “Namanya Randy, dia teman sekelasku”

            “Terus?”

            “Kak dhe tahu sendiri kan, kalau aku suka cowok pasti aku pura-pura benci sama dia”

            Kak Dheavy mengangguk lalu tersenyum.

            “Iya, kak dhe tahu. Itu sudah jadi prinsipmu kan?”

            Aku mengangguk.”Iya”

            “Lalu? Apa dia sudah tahu?”tanyanya

            Aku menggeleng.”sudah”

            “Wah, asyik dong!udah punya cowok nih ceritanya?”ejeknya padaku.

            Aku terdiam.

            “Lho, kok malah diem kenapa?”tanyanya lagi.

            “Ehm, dia buat aku malu kak?”

            “Kenapa?”

            “Waktu itu, dia baca catatanku yang isinya tentang dia. Pasti dia kegeeran kak!”ujarku.

            “Oh, jadi masalahnya itu toh!”sahutnya.

            “Terus, sekarang dia gimana sama kamu?baik atau nggak?”tanyanya lagi penasaran.

            Aku menggeleng.

            “Dia sudah pergi kak, udah nggak kuliah di sana lagi”sahutku sedih. Lalu menangis.

            Kak dheavy memelukku erat. Dia tahu seberapa kesedihanku.

            “Sudah, jangan nangis dong!kamu udah minta maaf sama dia belum?”tanyanya

            Aku menggeleng”Nggak sempat kak!”

            “Kenapa?”

            “Sejak saat itu aku nggak pernah ngajak dia bicara, selain pinjam bukuku”sahutku

            “Oh, apa dia sama sekali nggak ninggalin pesan buatmu?”

            “Ya, dia nggak ninggalin apapun kak!”sahutku sedih.

            “Ya sudahlah, mungkin dia bukan jodoh kamu jo!”ujarnya menenangkanku.

            Aku mengusap air mataku.

            “Nih, tissue!”ujar kak dheavy sambil menyodorkanku beberapa lembar tissue.

            “Makasih ya kak!”sahutku berusaha tersenyum.

            “Kak?”sambungku

            “Apa lagi?”

            “Kak benarkah kalau benci itu bisa berubah jadi cinta?”tanyaku

            “Bisa juga”

            “Kenapa?”

            “Karena, jika kita membenci seseorang. Biasanya waktu kita habis digunakan untuk memikirkannya. Dan kamu tahu sendiri kan antara benci dan cinta itu bedanya tipis sekali”ujarnya menjelaskan.

            Aku diam termangu.

            “Kenapa bisa begitu ya kak?”

            “Dek, kalau kamu nggak suka sama seseorang itu pasti nggak akan pernah peduli tentang dia. Nggak ada waktu mikirin dia. Tapi kalau benci, beda!”ujarnya

            Aku jadi semakin bingung.

            “Jadi lawannya cinta itu bukan benci melainkan tidak peduli gitu?”ucapku semakin ingin tahu.

            Kak dheavy mengangguk.”Betul!”

            Oh, jadi begitu ya? Kira-kira randy itu benci atau tidak peduli ya?

            Aku semakin gusar.

*

            Daripada pusing mikir dia suka sama aku atau nggak, lebih baik aku browsing saja deh! Kebetulan hari ini libur. Di kost-kosan ini, hanya aku yang mempunyai komputer disini. Seperti biasa mama selalu memberiku penghidupan yang layak. Biarpun tak ada kasih sayang dari mereka berdua.

            Aku adalah anak yang malang…

            Hidup di dalam lingkungan yang terbuang….

            Tak ada yang memberiku kasih sayang……

            Aku adalah anak yang malang…..

 

            Hiperbolis amat sih aku ini! Sepertinya aku memang layak dijadikan seorang pujangga. He..he..he…

            Aku melanjutkan browsingku. Sambil menunggu connect aku mengambil buku desainku. Sepertinya, buku ini pernah sekali dipinjam oleh randy. Kenangannya hanyalah ini. Tak ada yang lain.

            Jika dia memang suka padaku, kenapa bukan dia yang maju? Kenapa harus aku yang lelah-lelah dan bersusah payah memikirkannya. Padahal aku benci….benci apa cinta??? Ce…ii..le…

            Aku membuka halaman tengah. Dan tanpa sengaja aku menemukan secarik kertas. Ah..mungkinkah, ini satu-satunya peninggalannya. Selama dua bulan ini aku begitu kehilangannya.

            Aku membacanya. Disana tertulis alamat email.

            R_4ndy@yahoo.com

            Wow….benar juga! Ini pasti kepunyaannya. Hatiku kebat-kebit tak karuan. Terbang seperti layang-layang. Aku juga punya puisi untuk yang iniJ

            Aku cari….

            Dia menghilang…

            Aku kembali….

            Dia datang….

 

            He…he..he…sepertinya, dia sengaja meninggalkannya dibuku desain ini. Biarpun dia tak bicara karena aku sudah tak ingin bicara dengannya. Tapi, semua ini adalah jawabannya yang sesungguhnya.

            Sebuah jawaban darinya. Yang sangat aku nantikan.

            Randy sudah pergi selama enam puluh dua hari….

            Tak ada kabar dari temannya. Karena aku juga sama sekali tak pernah bertanya.

            Sekarang, apa yang harus kulakukan? Mengirimnya email atau tidak ya?

            Ah, lebih baik aku pakai emailku yang lain. Sebuah email palsu. Aku mengirim email padanya. pura-puranya, aku orang lain yang ingin berkenalan dengannya. Kau tahu sobat, kenapa? Karena aku GENGSI.

            Biar gengsiku gede-gedean sama dia.

            Subject: hi, boleh kenal ga?

            To: R_ndy@yahoo.com

           

            Hi, boleh kenalan ga? Namamu randy bukan? Kenalin, aku Irene. Aku tahu kita pernah chat sebelumnya. Makasih

 

            Irene..

 

            Yups! Kira-kira dia ngebalas lagi nggak ya? Semoga saja dia merespon. Akhirnya, aku mematikan komputerku. Tak terasa sudah pukul sepuluh malam. Kedua mataku sudah tidak sanggup lagi aku buka.

            Aku merebahkan diriku di kasurku. Dan mulai menutup mata.

*

            Randy menyalakan komputernya, seperti biasa jika dia menyalakan komputer pasti yang pertama dia klik adalah internet. Dia ingin download sesuatu. Yah…randy itu kan cowok pinter. Anaknya Rector dan juga tajir. Biar tajir tapi dia nggak suka pamer. Karena dia tahu orang yang suka pamer sebenarnya adalah orang yang nggak punya apa-apa. Alias kere.

            Dia mulai membuka mailboxnya di yahoo. Mungkinkah si manis sudah mengirim surat untuknya. Basi sebenarnya, karena zaman sms kok masih suka nulis email. Tapi, semuanya itu karena ada alasannya. Yaitu karena randy tak berani menanyakannya. Takut Joanne merasa terusik.

            Padahal, Joanne juga menyukainya setengah mati. Malah mungkin hampir mati.


Posted at 05:39 pm by stroberi2beri
Comment (1)  

LoVeNa

            Wah, ada email yang masuk nih! Pikir randy senang. Segera dia membukanya. Tapi, setiap hari kekecewaanlah yang selalu dia dapat. Bukan dari si manis. Melainkan dari cewek lain yang mau kenalan dengannya.

            Padahal, kalian tahu kalau surat itu sebenarnya dari Joanne sendiri. Hanya dia berpura-pura jadi orang lain. Katanya sih, gengsi gitu. Ce..i..le..jaman sekarang kok masih gengsi-gengsian. Kata si penulisnya sendiri. He..he..he…he..

            “Bukan dari jo, tapi Irene. Siapa Irene ya?”Tanya randy resah. Kenapa dalam hatinya randy ingin sekali membalas surat ini? Padahal jelas-jelas bukan dari dia. Melainkan orang lain.

            Randy tanpa sengaja ngeklik tombol tulis. Dan dia membalasnya.

            Subject: hi, boleh kok!

            To:       Irene@yahoo.com

 

            Hi juga! Sapa bilang ga boleh? Memangnya aku ini anaknya presiden?

            Oh, ya kita kenal dimana ya? Rasanya nggak prnah chat deh!

 

            Randy

           

            Send….delivered.

 

            Randy sedikit kecewa. Tiada hari tanpa kesendirian. Hidup hanya dengan ayahnya saja. Ibunya sudah lama meninggal. Ayahnya pun di Yogyakarta. Tahu sendiri bukan kalau ayahnya randy itu rector kampus.

            Randy merebahkan dirinya di kasur.

            Melamun….

            Jika hati sudah tertambat

            Pada siapa aku kan mengadu

            Mencari hati yang sudah melekat

            Tak peduli hatiku pasti kan datang padaku…

 

                        Biarlah waktu yang akan menjawab semua..

                        Karena siapa tahu sang pencipta memintaku bersamanya

                        Joanne, sayangku…

                        Aku cinta padamu….

 

            Randy menutup matanya. Sepertinya, dia bermimpi indah….

            Mimpi tentang dirinya….si manis Joanne.

*

            “Woaah…ehm!”aku menguap lebar. Melirik jam wekerku. What’s sudah jam delapan pagi?. Aku bergegas bangun dan mandi. Biar air dingin menusuk tulangku. Tak kurasakan sakitnya. Karena hari ini adalah awal dari presentasiku di kampus. Tapi, sepertinya aku mendengar suara rintik-rintik hujan. Aku mengintip jendela.

            “Busyet! Hujan deras, gimana ini?”ujarku cemas. Cepat-cepat aku keluar dari kamar mandi. Pikiranku benar-benar kacau.

            Tlit..tlit..tlit..bunyi handphoneku mengejutkanku.

            “Ya, astrid ada apa nih?”tanyaku

            “Hei jo, kelas dibatalin, kamu di kos-kosan ya?”ujarnya

            Apa? Kelas dibatalkan? Payah…padahal semalaman aku sudah mempersiapkan diriku untuk tugas yang satu ini. Aku jatuh terduduk.

            Aku menutup ponselku. Tak ada yang ingin kujawab. Hanya, sebuah kekecewaan yang ada.

            Seperti bulan dalam khayalan…

            Menangis sedih tak berair mata…

            Seperti manusia ingin meraih bintang…

            Tak ada guna melukai diri sendiri….

                       

            Aku duduk termangu. Tak ada gunanya menyesali. Aku menyalakan komputerku. Seperti biasa jika aku sedang dalam keadaan suntuk. Kira-kira randy ngereplay nggak ya? Gimana kalau aku pakai nama asliku saja. Tapi, nanti dia pasti kegeeran.

            You have 1 message

            Wah…ada surat masuk. Ya Tuhan semoga dari dia. Sudah dua bulan ini aku tak melihat wajahnya, tak mendengar suaranya dan ejekannya.

            Klik….

            Aku membaca isinya, benar! Dia tidak tahu kalau itu aku yang menulisnya.

            Aku teruskan saja. Sampai nanti dia benar-benar sadar bahwa sebenarnya itu adalah aku.

            Kadang, hati tidak sama dengan perkataan….

            Kadang, tak semua perkataan sama dengan hati…

            Kadang, semua itu terjadi karena satu alasan….

            Kadang, menyimpan di hati lebih aman daripada….

            Mendapatkan malu…

*

BAB 3

Keinginan kuat untuk membujuk mama supaya bisa rukun kembali dengan papa membuat pikiran terasa begitu penat. Tak ada satupun cara yang membuatku bisa mencoba menyatukan mereka. Mungkin jika aku benar-benar mati dan tak ingin hidup lagi. Kemungkinan bisa mendamaikan mereka berdua.

            Kira-kira ….

            Apa masih bisa?..

            Tak mungkin….

            “Joanne!bangun!”teriak mama memanggilku. Ah…..di hari ini aku benar-benar kelelahan sekali. Sepertinya, aku baru ingat kalau hari ini adalah hari dimana randy akan pergi meninggalkan kota Yogyakarta.

            Randy akan pergi meninggalkan kota ini? Kampus ini? Tanyaku gelisah.

            “Ada apa sayang?”Tanya mama melihatku cemas.

            Aku terdiam melamun. Lalu menatapnya.

            “Ma, kira-kira kalau cewek bilang suka sama cowok boleh nggak?”tanyaku.

            Mama tersenyum memandangku yang berwajah penuh kegelisahan.

            Dia mengangguk.”Boleh sayang, daripada Cuma disimpan?iya kalo dia juga suka sama kamu kan enak”jawabnya padaku.

            Aku memalingkan muka. Gimana bisa dia suka? Dia kan benci sekali padaku. pernah kujambak rambutnya lagi. Gara-gara dia baca bukuku.

            “Kenapa sayang?kamu suka siapa?”Tanya mama penasaran.

            “Ehm…teman sekampusku, namanya Randy”jawabku.

            “Randy, orangnya cakep nggak?”tanyanya

            Aku tersenyum dan mengangguk.”Iya, tapi…”

            “Tapi apa sayang?”tanyanya.

            Aku menangis.”Dia sudah membenciku”sahutku terisak-isak.

            “Kenapa dia benci sama kamu sayang?”

            Aku masih menangis.

            “Aku salah sama dia ma, aku kira kalau kita benci sama cowok nanti aku bakal suka sama dia, tapi…tapi…dia salah mengerti”ujarku.

            Mama memelukku.”Ya sudah sayang, nggak apa-apa”

            “Terus, jo harus gimana?apa jo harus minta maaf sama dia sebelum dia pergi?”tanyaku

            Mama mengangguk.”Daripada terlambat tak ada gunanya?”

            “Tapi, jo malu ma”

            Mama tersenyum”Tidak usah malu, jangan seperti papa, orangnya keras kepala. Akhirnya kan jadi seperti ini”

            “Ma, kalau dia tidak suka gimana?”tanyaku ketakutan.

            “Pasti dia suka sama kamu sayang”

            “Darimana mama tahu?”

            “Kalau perasaanmu saja suka sama dia, berarti dia juga sama”ujarnya menenangkanku.

            “Benar?”

            “Benar sayang, temuilah dia sebelum terlambat”pintanya.

            Mimpi itu…yang kulihat saat itu adalah Randy sudah pergi meninggalkanku sendiri. Gambaran itu begitu terasa jelas. Lalu, aku harus bagaimana? Tanyaku gelisah.

            Tak bisa kubayangkan jika aku mengatakan suka padanya. mukaku ditaruh dimana. Mama memintaku lekas dan menemuinya. Cintaku akan pergi jauh. Jika tak kukatakan sekarang, nanti tak berguna. Dia..selalu meminjam bukuku. Walau dia bungkam gara-gara setelah tragedy memalukan itu. Sudahlah…aku harus mengatakannya. Harus…tak boleh tidak.

            Aku bergegas menuju kampus UGM. Mencari astrid dan temannya randy.

            “Hei…astrid!kau tahu dimana randy?”tanyaku

            Astrid terdiam melongo.”Ha? kenapa tiba-tiba kamu nanyain dia?”

            “Ah, sudahlah dimana dia sekarang?”tanyaku.

            “tadi, aku lihat dia pergi sama Andi. Mungkin sekarang, dia ada di Hall A”sambung astrid terheran melihatku panik.

            “Ok!aku kesana ya?”kataku padanya lalu meninggalkannya.

            Aku berlari mencari sosok randy…kira-kira apa dia masih disini? Aku mencari dan mencari.

            Aku…mencari sosok yang akan pergi dariku…

            Tak…ada bayangan satupun yang kulihat…

            Jika dia pergi….

            Aku akan mati menyimpan rasa duka yang kubuat sendiri…

 

            Aku harus menemukannya. Sambil kubawa buku-bukuku yang pernah dia pinjam dulu. Aku ingin memberikannya kenangan. Setidaknya satu buku yang dia suka.

            Sepertinya, aku melihatnya. Itu dia! Dia memakai kaos kemeja biru. Langkahku berhenti tiba-tiba. Aku sedikit takut. Perlahan-lahan aku mulai mendekatinya. Aduh…gimana ini? Kalau dia melihatku. Aku malu.

            ”Ran..randy”panggilku.

            Dia menoleh ke arahku. Dan terheran. Aku bisa melihat raut wajahnya tersirat kebingungan.

            “Joanne?ada apa?”tanyanya. busyet!dia menyapaku balik. Apa dia melihat kalau aku gemetaran?

            Dia juga tersenyum padaku. Ya Tuhan! Cakep sekali.

            Dia mulai menghampiriku. Aku tertegun sekaligus ketakutan. Pesan dari mama haruskah kusampaikan?

            “Ran..aku min..minta maaf kalau dulu aku pernah salah sama kamu”ujarku padanya dengan menunduk malu.

            Dia tersenyum lagi.”Nggak apa-apa kok!justru aku yang harus minta maaf, soalnya aku sebenarnya sengaja membuka map filemu itu” jawabnya membuatku terkejut.

            “Ja..jadi kamu baca beneran ya?dasar kamu!”ujarku geram.

            Dia tertawa.”Aku baca kok tulisanmu itu”

            Aku terdiam. Rona mukaku berubah menjadi merah.

            “Kau baca apa?”tanyaku

            “Kau suka padaku bukan?”ujarnya.

            What’s beneran dia baca tuh bagian penting dan memalukan itu. Busyet!!!!

            “Iya, aku memang sejujurnya suka sama kamu, jadi sebelum kamu pergi aku katakan saja daripada menyesal”sahutku malu.

            “Jo, aku mau bilang kalau aku…”jawabnya terputus setelah dibelakangnya ada seorang cewek yang memanggilnya.

            “Sayang, yuk berangkat!”ucap wanita misterius itu. Aku memandangnya.

            Randy tersenyum juga padanya.”Iya sebentar lagi deh, Rhanie!mau kukenalkan sama temenku yang dulu pernah jambak rambutku nggak?”ujarnya pada wanita itu. Aku sama sekali tidak mengerti sebenarnya, apa maksudnya dia padaku?

            “Oh ya!mana sayang?”Tanya wanita itu padanya.

            Randy menoleh padaku dan tersenyum. Senyumannya menyimpan kelicikan.

            “Jo, kenalin ini cewekku. Dia anaknya temannya papaku, aku sudah jalan sama dia enam bulan ini”ujarnya membuatku terkejut setengah mati. Malah, mungkin benar-benar mati.

            “Cewek kamu? Jadi selama ini kamu sudah punya cewek?’tanyaku penasaran.

            Dia mengangguk.

            “Makasih ya, sebenarnya dulu aku juga suka sama kamu, tapi…kejadian waktu itu membuktikan bahwa kamu sudah benar-benar membenciku”jawabnya membuatku sangat kecewa.

            “Oh gitu, ya udah deh!selamat ya!aku pergi dulu!”sahutku tersenyum pada mereka berdua.

            Busyet! Aku ketipu…benar-benar tertipu

            Harusnya, aku tak mengatakannya..

            Harusnya, aku bertahan pada prinsipku

            Aku harus menyimpan perasaanku walau sesuka apapun itu.

            Daripada aku mendapatkan malu….

           

            Aku melangkah gontai menuju kos-kosanku. Kurebahkan diriku di kasur. Tak bisa kupejamkan mataku. Brengsek! Gerutuku dalam hati. Dasar bajingan!

            Aku beranjak menuju kamar mandi. Kubasahi semua tubuhku dari rambut sampai ujung kaki. Aku ingin berlama-lama disini. Lama sekali. Gara-gara aku mempertahankan prinsipku bahwa benci bisa berubah menjadi cinta. Ternyata itu salah. Benci ya benci….cinta ya cinta…

            Ternyata semua pikiranku itu salah….salah semuanya.

            Cintaku yang kupendam selama itu berubah menjadi benar-benar benci.

            Dendam kesumat mengalir dalam aliran darahku.

            Aku membencinya sangat membencinya.

            Ternyata inikah rasanya membenci orang yang dicintai?

           

            Oh Joanne….

            Nasibmu sungguh malang…

            Karena…

            Cintamu termakan oleh gengsi.

 

            Aku mengguyur tubuhku penuh dengan air. Rasanya, aku ingin mati saja. Biar aku rendam tubuhku di dalam bathtub ini. Aku benamkan diriku di dalam air. Dan tak ingin muncul ke dunia lagi.

            Oh ya, mungkin ini jalan satu-satunya supaya mama dan papa bisa rujuk kembali. Setidaknya, mereka baru sadar betapa pentingnya kehadiran seorang anak. Tapi…mungkin saja mereka tak pernah peduli.

            Randy…aku akan menghantuimu selamanya….

            Selamanya…kau tak akan pernah bahagia.

            Lima, empat, tiga, dua, satu..kosong….

            Aku tak dapat menghirup udara lagi…

            Jiwaku sudah melayang…jauh…

            Menemui randy yang kubenci…

            Sekarang, aku bisa mengetahui dimana dia berada.

TAMAT


                                                          crycrycrycrycry

           

                       


Posted at 05:54 pm by stroberi2beri
Comment (1)  




Saturday, October 14, 2006
minal aidin wal faidin

minal aidin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin

selamat hari raya idul fitri 1427 H

saya minta maaf buat kalian smua .....
Big Smile



Posted at 11:40 am by stroberi2beri
Make a comment  




 



stroberi2beri
December 4th 1983  (Age 26)
Female
sidoarjo







 
<< September 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30

Dual Drill
Free Web Counter
Dual Drill
Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x





 
Contact Me

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed